Mengenang dan Merenung, Iman di Tengah Gelapnya G30S/PKI

 

OPINI_nurulqarnain.net – G30S/PKI selalu hadir sebagai bayang-bayang sejarah. Bukan hanya kisah kudeta yang gagal, tetapi juga jejak sebuah ideologi yang hendak mengusir Tuhan dari ruang kehidupan bangsa. Dari sudut pandang pesantren, peristiwa ini terbaca sebagai ujian iman: mampukah manusia tetap berpihak pada cahaya ketika gelap ideologi menutup mata?

Di desa-desa Jawa, kisah itu masih berbisik dalam ingatan orang tua. Pesantren kala itu menjadi benteng. Para kiai dan muridnya, dengan kitab kuning di satu tangan dan tekad di dada, menjaga masyarakat dari propaganda yang menjanjikan surga tanpa Tuhan. Mereka paham benar, janji seperti itu hanyalah fatamorgana. Tanpa iman, bangsa bisa saja besar, tapi kosong ibarat tubuh raksasa yang kehilangan ruh.

Tradisi Islam sudah lama mengingatkan hal ini. Al-Ghazali menulis bahwa agama dan kekuasaan adalah saudara kembar: satu menjadi ruh, yang lain menjadi tubuh. Jika salah satunya runtuh, keduanya akan hancur. Maka perlawanan terhadap komunisme waktu itu bukan sekadar urusan politik, melainkan cara menjaga keseimbangan semesta sosial.

Namun sejarah juga memberi pelajaran lain: tragedi ini tidak boleh diwariskan sebagai dendam. Luka masa lalu harus dirawat dengan sikap adil dan jernih, bukan dijadikan alat menakut-nakuti generasi. Pesantren mengajarkan bahwa keadilan adalah inti dari syariat. Karena itu, membaca G30S/PKI hari ini bukan untuk menghidupkan kebencian, melainkan agar bangsa belajar menjaga jati dirinya.

Enam puluh tahun lebih sudah berlalu, tetapi pesan yang ditinggalkan tetap sama: ancaman ideologi tanpa Tuhan tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin tak lagi bernama komunisme, melainkan hadir dalam wajah baru dari materialisme, sekularisme yang ekstrem, atau gaya hidup yang menafikan nilai ilahi.

Di sinilah pesantren terus berperan. Mengajarkan ilmu sembari menanamkan akhlak, membumikan teks-teks klasik sambil menjaga arah bangsa. G30S/PKI menjadi pengingat bahwa iman adalah benteng terakhir. Dan selama benteng itu tegak, bangsa ini akan selalu punya cahaya untuk menolak segala bentuk kegelapan.

Oleh: Wildan Miftahussurur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *