Bertempat di aula kampus Ma’had Aly Nurul Qarnain, penilaian dimulai dari sekitar jam 07.30 WIB. Adapun beberapa yang menjadi pokok penilaian utama adalah standar mutu pendidikan, administrasi, dan keperpustakaan serta hasil yang dicapai oleh Ma’had Aly Nurul Qarnain sejak berdiri dari 2017 hingga sekarang.
Membuka asesmen, KH. Badrut Tamam, selaku mudir menceritakan awal berdirinya Ma’had Aly Nurul Qarnain.
“Ma’had Aly Nurul Qarnain telah resmi ditandatangani oleh Kemenag di tahun 2017, namun sebelum itu telah berjalan meskipun tanpa formalitas dari Kementerian Agama.” Buka beliau.
“Sebenarnya di tahun 2016 kami telah mengajukan untuk mendirikan Ma’had Aly akan tetapi karena pada tahun itu peraturan pusat menyatakan bahwa hanya 3 Ma’had Aly yang boleh ada dalam satu provinsi akhirnya kami mundur. Setahun setelahnya, peraturan tersebut entah kenapa dihapus dan alhamdulillah di tahun 2017 kami resmi berdiri.” Lanjut beliau.
KH. Badrut Tamam menyampaikan standar kegiatan yang dijalankan oleh Ma’had Aly Nurul Qarnain tidak sama dengan kampus yang lainnya.
“Kegiatan perkuliahan di Ma’had Aly Nurul Qarnain tidak dimulai dari jam 7 pagi seperti kampus lainnya, melainkan dari ba’da Subuh sampai jam 6, dilanjutkan kembali pada jam 7 pagi hingga jam 12 siang dan pada dosen tertentu bisa sampai jam 2 siang. Perkulihan sore dimulai setelah jama’ah Ashar hingga jam 5 sore. Perkuliahan malam dari jam 8 hingga jam 10 malam.” Ungkap beliau.
“Perlu diketahui, bahwa mayoritas dosen kami di sini merupakan lulusan dari Ma’had Aly Sukorejo yang memiliki takhassus fikih dan ushul fikih, sehingga Ma’had Aly Nurul Qarnain memulai dengan takhasus fikih dan ushul fikih pula. Akan tetapi lambat laun, kemudian memberikan Fikih Siyasah atau Fikih Politik pula yang belum ada sama sekali di Indonesia” Pungkas beliau.
KH. Nur Hannan juga menimpali betapa pentingnya pendidikan melalui standar dari Ma’had Aly. Beliau menyampaikan bahwa Ma’had Aly di Indonesia merupakan setingkat perguruan tinggi juga.
“Karena Ma’had Aly merupakan wadah untuk calon kader ulama’ maka perlu untuk benar-benar menjaga kompetensi di dalamnya, terutama kitab kuning sebagai pokok utama ciri khas dari Ma’had Aly,” tambah beliau.

Penilaian dilanjutkan dengan presentasi dari para dosen Ma’had Aly Nurul Qarnain kepada tim penilai. Tim penilai juga mengunjungi beberapa ruang kelas, dan penilaian pembacaan kitab kuning pada Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain.
Diharapkan dari asesmen ini, Ma’had Aly Nurul Qarnain dapat memperoleh nilai yang memuaskan serta nama yang semakin baik ke depanya. Didukung oleh perbaikan secara terus menerus, semoga Ma’had Aly Nurul Qarnain berkembang menjadi Ma’had Aly percontohan dan rujukan di Indonesia nantinya.
_____________________________________________
Penulis : Wildan Miftahussurur
Editor : Liseh


