Bahtsul Masail Akhir Sanah yang berlangsung pada Minggu (25/2/2024) itu, juga menghadirkan Ustaz Khairuddin Habziz dan Ustaz Sukandi, Dosen Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, sebagai Perumus dan Musahih dengan didampingi oleh Ustaz Jamil Chansas dan Ustaz Mamar Syauqi yang berperan sebagai moderator.
Bahtsul Masail yang dimulai dari jam 13.00 WIB ini membahas mengenai kasus seorang istri yang izin kepada sang suami untuk melunasi hutangnya, lantas ia menutup komunikasi dengan suami dan bahkan tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan izin pertama kali.
Perdebatan semakin sengit dengan hasil bahwa istri tersebut telah bermaksiat dan nusyuz kepada suami, sehingga berlanjut ke kasus berikutnya, yaitu suami menceraikan istrinya menggunakan pesan WhatsApp.
Musyawarah melalui Bahtsul Masail ini merupakan kegiatan rutin, bahkan diadakan setiap satu hingga dua kali setiap bulan oleh siswa Madrasah Muadalah Tsanawiyah, Madrasah Muadalah Aliyah, Madrasah I’dadiyah, dan mahasantri Ma’had Aly dengan mendiskusikan berbagai masalah, khususnya dalam problema fikih.
Bahtsul Masail Akhir Sanah ini selesai jam 17.00 WIB dengan berbagai hasil keputusan yang telah disepakati. Namun sebelum menutup acara, Ustaz Sukandi menyampaikan rasa takjubnya kepada santri Pondok Pesantren Nurul Qarnain,
“Sejak awal saya berkunjung ke Nurul Qarnain, suasana keilmuannya begitu terasa sekali. Bahkan, beberapa tahun yang lalu, saya menitipkan putra saya ke pondok ini dan hingga saat ini hawa keilmuan Nurul Qarnain tidak sedikit pun berubah, justru semakin meningkat,” ujarnya.
Beliau juga mengutip sabda Nabi Muhammad Saw terkait ahli ilmu yang nama-namanya sudah berada di surga, bahkan sebelum wafat, yakni orang-orang yang senantiasa mendiskusikan berbagai macam keilmuan, khususnya dalam bidang agama, terlebih dengan seumpama Bahtsul Masail.
“Insya Allah para santri Pondok Pesantren Nurul Qarnain ini tetap dalam suasana keilmuan. Dan semoga bisa berkumpul bersama kelak sebagai ahlul ilmi di surga,” tutup beliau yang disambut aamiin para musyawirin. (*)
—————————
Juru berita: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


