Beliau Telah Tiada, tapi Gagasannya Masih Menyapa Indonesia

PUSTAKA | nurulqarnain.net – Buku Tuhan Akrab dengan Mereka: Kumpulan Tulisan Gus Dur tentang Toleransi & Keberagaman ini diperoleh dari sebuah perjumpaan Gusdurian bersama organisasi lintas agama dan mahasiswa di Jember sekitar setahun lalu. Semula mungkin ia hanya tampak sebagai bagian dari kenangan sebuah kegiatan. Tetapi setelah dibaca lebih dalam, buku ini ternyata menyimpan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada sekadar kenangan, yakni sebuah cara memandang Indonesia.

Membaca tulisan-tulisan Gus Dur seperti membuka kembali jendela menuju Indonesia yang pernah begitu akrab dengan sosok yang mampu berbicara tentang persoalan besar tanpa membuat orang merasa sedang digurui. Ia membicarakan agama, demokrasi, hukum, kebudayaan, negara, bahkan hubungan antarbangsa dengan bahasa yang ringan dan dekat.

Namun, di balik gaya yang santai itu terdapat keberanian berpikir yang tidak sederhana. Ada kalimat yang membuat tersenyum, tetapi beberapa halaman kemudian pembaca dibuat berhenti dan bertanya, mengapa persoalan yang dahulu dibicarakan Gus Dur ternyata masih begitu dekat dengan kehidupan hari ini?

Barangkali di situlah kekuatan Gus Dur. Pemikirannya tidak mudah dimasukkan ke dalam satu kotak. Ketika berbicara tentang Islam, beliau tidak berhenti pada persoalan ritual. Ketika berbicara tentang demokrasi, beliau tidak sekadar membicarakan pemilu dan kekuasaan. Ketika berbicara tentang hukum, beliau tidak puas hanya karena aturan telah dibuat. Semua pembicaraan itu akhirnya kembali kepada sesuatu yang lebih mendasar, bagaimana manusia diperlakukan secara adil dan manusiawi.

Salah satu bagian yang menarik adalah ketika Gus Dur menghubungkan etika global dengan good governance. Beliau menekankan pentingnya kedaulatan hukum dan keadilan dalam hubungan internasional. Gagasan ini terasa semakin dekat ketika hukum dan kekuasaan masih sering berhadapan dengan kepentingan. Bagi Gus Dur, pemerintahan yang baik tidak cukup hanya mampu mengatur negara secara administratif. Ada pertanyaan yang lebih mendasar, untuk siapa kekuasaan itu bekerja, dan apakah kekuasaan benar-benar menghadirkan keadilan?

Di sinilah pemikiran Gus Dur terasa dekat sekaligus mengusik. Hukum tidak semestinya berhenti sebagai kumpulan pasal yang tersusun rapi, tetapi harus menjadi jalan agar manusia tidak diperlakukan secara sewenang-wenang. Negara yang memiliki banyak aturan belum tentu menjadi negara yang adil apabila aturan tersebut hanya keras kepada sebagian orang, tetapi kehilangan ketegasannya ketika berhadapan dengan kepentingan tertentu.

Cara Gus Dur membaca perbedaan juga memiliki kehangatan tersendiri. Beliau tidak terburu-buru menganggap sesuatu yang berbeda sebagai sesuatu yang salah. Sebagai seorang Muslim, Gus Dur tentu memiliki keyakinan, prinsip, dan batas-batas keagamaan yang jelas. Namun, keyakinan itu tidak membuatnya merasa harus menyeragamkan kehidupan orang lain. Ada kedewasaan yang terasa kuat, yaitu teguh dalam keyakinan, tetapi lapang dalam kehidupan bersama.

Mungkin inilah salah satu pelajaran penting dari Gus Dur. Keyakinan tidak harus melahirkan permusuhan. Seseorang dapat berdiri kokoh dengan agamanya sendiri tanpa harus merobohkan tempat berdiri orang lain. Dalam kehidupan bersama, yang dibutuhkan bukan keseragaman, melainkan kesediaan untuk saling memberi ruang.

Gagasan tersebut terasa semakin kuat ketika Gus Dur berbicara tentang dialog antaragama. Islam, Kristen, Hindu, Budha, Yahudi, Konghucu, Shinto, dan berbagai tradisi keagamaan lainnya tidak perlu dipertemukan untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang. Dialog justru diperlukan agar manusia belajar mengenal manusia lainnya. Sebab, sering yang membuat seseorang takut terhadap perbedaan bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan ketidaktahuan terhadap mereka yang berbeda.

Pada buku ini, gagasan Islamku, Islam Anda, Islam Kita menjadi menarik untuk direnungkan kembali. Ada pengalaman keberagamaan yang bersifat personal, ada cara orang lain memahami agamanya, dan ada ruang bersama tempat berbagai pengalaman tersebut bertemu sebagai kehidupan sosial. Ruang bersama inilah yang perlu dijaga. Sebab Indonesia tidak mungkin dibangun dengan memaksa seluruh warganya memiliki pengalaman agama, kebudayaan, dan cara berpikir yang seragam.

Bhinneka Tunggal Ika pun menjadi lebih dari sekadar semboyan ketika dibaca melalui cara berpikir Gus Dur. Indonesia bukan rumah yang dibangun dari kesamaan. Negeri ini tumbuh dari perjumpaan berbagai agama, suku, bahasa, budaya, tradisi, dan pandangan hidup. Oleh karena itu, menjadi Indonesia bukan berarti menghapus perbedaan, tetapi menemukan cara agar perbedaan dapat hidup berdampingan dengan rasa saling menghormati.

Di tengah kehidupan hari ini, gagasan semacam itu terasa semakin penting. Kita hidup dalam zaman ketika perbedaan dapat berubah menjadi pertengkaran hanya dalam hitungan menit. Pilihan politik bisa memutus pertemanan. Perbedaan keyakinan dapat melahirkan prasangka. Perbedaan pendapat sering membuat orang lebih sibuk membuktikan bahwa dirinya benar daripada memahami mengapa orang lain berpikir berbeda.

Dalam suasana seperti itu, tulisan Gus Dur terasa seperti seseorang yang mengajak kita duduk sejenak. Tidak untuk menentukan siapa yang paling benar, tetapi untuk mengingatkan bahwa di balik setiap perbedaan tetap ada manusia yang memiliki perasaan, kehormatan, dan hak untuk dihargai.

Setelah buku ini selesai dibaca, muncul satu pertanyaan yang barangkali sederhana, tetapi tidak mudah dijawab, yakni ketika Gus Dur telah tiada, siapa yang akan meneruskan cara berpikir dan cara hidup yang pernah beliau perjuangkan? Jawabannya mungkin tidak perlu dicari terlalu jauh.

Gus Dur dapat terus hidup dalam keberanian membela mereka yang dipinggirkan. Beliau hadir ketika seseorang bersedia mendengarkan suara yang berbeda. Beliau hidup dalam keputusan untuk memilih dialog daripada permusuhan, keadilan daripada kepentingan, dan kemanusiaan daripada fanatisme yang membutakan.

Oleh karena itu, buku yang diperoleh dari sebuah perjumpaan Gusdurian, organisasi lintas agama, dan mahasiswa di Jember tersebut akhirnya memiliki arti yang berbeda. Ia bukan lagi sekadar buku yang dibawa pulang dari sebuah kegiatan. Ia menjadi semacam oleh-oleh intelektual; sebuah pengingat bahwa Indonesia yang hangat, Indonesia yang memberi ruang kepada perbedaan, dan Indonesia yang memandang manusia sebagai manusia masih mungkin dirawat.

Barangkali Gus Dur memang telah tiada secara fisik. Tetapi gagasannya belum selesai. Ia masih menunggu untuk dibaca, dipahami, diperdebatkan, bahkan mungkin dikritik. Yang paling penting, gagasan itu menunggu untuk dihidupkan dalam tindakan sehari-hari.

Sebab pada akhirnya, mengenang Gus Dur bukan hanya dengan mengingat leluconnya, mengutip kalimat-kalimatnya, atau memasang fotonya. Mengenang Gus Dur adalah berani meneruskan apa yang beliau perjuangkan: menghormati perbedaan, merawat dialog, menegakkan keadilan, dan menempatkan kemanusiaan di atas segala sekat. Dan mungkin, selama semua itu masih dilakukan, Gus Dur belum benar-benar pergi. (*)

Identitas Buku

Judul: Tuhan Akrab dengan Mereka; Kumpulan Tulisan Gus Dur tentang Toleransi & Keberagaman
Penulis: Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Penerbit: Yayasan Bani K.H. Abdurrahman Wahid, Jakarta
Cetakan: II, Desember 2024
Tebal: 255 halaman
ISBN: 978-623-09-9008-3
——————————————-

Peresensi: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *