Penyuluhan ini menghadirkan AKP. Solikhan Arief, S.H., M.H., sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa remaja berusia 12 hingga 18 tahun merupakan kelompok yang rentan terhadap pengaruh negatif, seperti narkoba dan kenakalan remaja. “Usia remaja adalah fase pencarian jati diri, di mana rasa ingin tahu sangat besar. Jika tidak diarahkan dengan baik, bisa terjerumus ke dalam pergaulan yang salah,” ujarnya.
Ia memaparkan data yang menunjukkan bahwa sekitar 2,5 juta remaja di Indonesia telah terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Hal ini mengancam masa depan mereka sebagai generasi penerus bangsa.
“Narkoba bukan hanya merusak kesehatan, tetapi juga menghancurkan cita-cita. Jangan sampai masa depan kalian hilang hanya karena terjerumus dalam jeratan narkoba,” tegas AKP. Solikhan .
Ia menjelaskan bahwa narkoba terdiri dari tiga jenis utama: Narkotika, yaitu zat dari tanaman yang dapat menurunkan kesadaran, seperti sabu, ganja, dan opium. Psikotropika, yaitu zat yang mempengaruhi sistem saraf pusat, seperti amphetamine dan dextro. Bahan adiktif, seperti alkohol, tembakau, dan kopi, yang dapat menyebabkan ketergantungan.
Selain itu, dijelaskan pula ciri-ciri seseorang yang menyalahgunakan narkoba, seperti perubahan sikap drastis, mata merah dan cekung, serta sering kehilangan uang atau barang di rumah. “Jika melihat tanda-tanda ini pada teman atau keluarga, segera cari bantuan,” imbuhnya.
Tak hanya narkoba, penyuluhan ini juga menyoroti berbagai bentuk kenakalan remaja, termasuk tawuran, pencurian, perundungan (bullying), dan konsumsi minuman keras. “Jangan anggap enteng tindakan membuli teman. Pelaku bullying bisa diancam hukuman penjara hingga lima tahun,” jelasnya.
Dalam sesi ini juga dibahas bahaya cyber bullying, yang banyak menimpa remaja, khususnya perempuan. “Hati-hati dalam menggunakan media sosial. Jangan sembarangan membagikan foto atau informasi pribadi,” pesannya.
Sebagai langkah pencegahan, AKP. Solikhan menekankan peran penting lingkungan dalam membentuk karakter remaja. “Keluarga, lingkungan pesantren, dan masyarakat harus bersinergi dalam membangun benteng moral bagi generasi muda,” katanya.
Penyuluhan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih mendalam kepada para santri tentang pentingnya menjaga diri dari bahaya narkoba dan kenakalan remaja. Khususnya para santri yang hampir liburan Ramadhan.
Reporter: Silfin A. & Wildan Ms
Editor: M. Firmansyah


