Bukan Sekadar Tradisi, Halal Bihalal Santri Putra Teguhkan Muhasabah dan Niat

JEMBER | nurulqarnain.net – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Dzul Qarnain pada Selasa malam (31/03/2026) dalam kegiatan Halal Bihalal santri putra bersama jajaran pengurus Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya kembali aktivitas kepesantrenan setelah libur Ramadan, sekaligus menjadi momentum refleksi bagi seluruh santri untuk menata langkah ke depan.

Kepala Pondok, Ustaz Malik Ibrahim, dalam sambutannya menyampaikan tiga hal penting yang harus menjadi pegangan santri setelah kembali ke pesantren. Pertama, pentingnya saling memaafkan antarsesama. Kedua, melakukan introspeksi atau muhasabah diri. Ketiga, menata kembali niat dalam menjalani kehidupan sebagai santri.

“Tiga hal ini harus kita pegang: saling memaafkan, muhasabah diri, dan menata kembali niat. Dengan begitu, kita diharapkan mampu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Halal Bihalal bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan momentum penting untuk memperbaiki hubungan sosial sekaligus memperkuat arah dan tujuan hidup sebagai seorang santri.

Sementara itu, dalam tausiyahnya, Lora H. Nakhlid Syafi’i mengajak para santri untuk memaknai Idulfitri sebagai titik awal perbaikan diri. Menurut beliau, selain saling memaafkan, santri juga harus terus menuntut ilmu sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

“Pada momentum hari raya ini, kita tidak hanya saling memaafkan, tetapi juga harus terus berusaha menuntut ilmu sebagai bentuk pengabdian kepada Allah,” ungkapnya.

Beliau turut mengutip dawuh Sayyid Alawi Al-Maliki yang menegaskan bahwa ilmu tidak cukup hanya diketahui atau diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui khidmah dan memberikan manfaat kepada guru.

“Ilmu itu bukan sekadar disebutkan, tetapi harus dibuktikan dengan berkhidmah dan memberi manfaat kepada para guru,” jelasnya.

Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa ilmu tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Ilmu dapat ditemukan di mana saja dan kapan saja, selama seseorang memiliki kesungguhan dalam mencarinya.

“Ilmu itu ada di mana-mana, bisa diperoleh kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum tahun ini sebagai kesempatan untuk bermuhasabah, melakukan introspeksi, dan menata kembali niat ke depan,” pungkas Lora H. Nakhlid. (*)

———————————-

Pewarta: Sulthon Arafat

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *