Halal Bihalal bersama seluruh pengurus putri dan santriwati bukan sekadar agenda tahunan, tetapi penanda dimulainya kembali kehidupan kegiatan pesantren.
Dalam suasana yang hangat namun sarat makna, Ning Hj. Zulfa Yazid, S.Sos.I., M.Pd., tidak langsung berbicara tentang aturan, melainkan tentang arah. Beliau menegaskan bahwa momentum Halal Bihalal bukan hanya ajang saling memaafkan, tetapi juga titik awal untuk menata kembali tujuan.
“Halal Bihalal ini merupakan awal dan pertanda bahwa kegiatan kita dimulai. Untuk itu, tata kembali niat kalian, karena niat itu ibarat kompas, penentu arah,” tuturnya.
Niat, menurut beliau, adalah kompas. Ia menentukan ke mana langkah akan dibawa. Tanpa niat yang lurus, perjalanan di pesantren hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna.

“Kedatangan kalian ke tempat ini bukan untuk main-main, tapi untuk menjemput takdir terbaik kalian. Sedih itu pasti, tapi itu waktunya hanya sebentar, dibanding bangganya, senangnya kalian nanti ketika ilmu kalian sudah mumpuni, ketika ilmu yang kalian dapatkan menjadi ilmu yang bermanfaat barakah. Untuk itu, luruskan niat kalian, bulatkan tekad kalian. Selamat berjuang di jalur ilmu,” imbuh beliau.
Beliau juga menegaskan bahwa niat saja tidak cukup. Harus ada komitmen yang mengiringinya.
“Kalian harus punya komitmen, komitmen untuk menjadi lebih baik, akhlaknya lebih baik, cara belajarnya lebih baik, dan ibadahnya lebih baik,” pesannya.
Beliau mengibaratkan komitmen sebagai mesin yang menggerakkan perjalanan. Ketika kompas sudah benar dan mesin sudah ada, maka langkah selanjutnya adalah mengisi bahan bakar.
“Komitmen itu ibarat mesinnya. Jika kompasnya sudah benar, mesinnya sudah ada, maka tinggal mengisi bahan bakarnya, yaitu dengan ridhanya, ridha Allah, ridha guru dan orang tua. Jika ketiganya sudah komplit maka kalian tinggal gas jalan.”

Selain itu, Ning Zulfa juga menyoroti pentingnya sikap hati yang penuh kehati-hatian dalam menjalani kehidupan pesantren. Beliau mengajak santri untuk memiliki rasa takut dalam arti yang positif.
“Jadilah santri yang penakut, takut tidak mendapatkan ridha Allah, takut tidak mendapatkan ridha guru dan orang tua, takut tidak membahagiakan orang tua, takut ilmunya tidak bermanfaat dan tidak barakah, takut untuk melanggar peraturan pesantren, takut menyakiti temannya, takut nilai ujiannya tidak bagus,” tambah beliau.
Dalam penjelasannya, Ning Zulfa juga mengingatkan agar santri tidak terjebak dalam kebiasaan yang tidak mencerminkan adab. Menjaga lisan, sikap, dan perilaku menjadi bagian penting dari komitmen menjadi pribadi yang lebih baik.
Lebih jauh, beliau menekankan bahwa ukuran keberuntungan bukan terletak pada pencapaian besar semata, melainkan pada konsistensi dalam memperbaiki diri.
“Santri yang beruntung adalah mereka yang hari ini lebih baik dari hari kemarin.”

Di tengah kehidupan pesantren yang penuh aturan, Ning Zulfa mengingatkan pula bahwa semua itu bukanlah beban, melainkan panduan. Pesantren adalah tempat menempa diri, bukan tempat untuk bersantai. Kesuksesan, menurutnya, membutuhkan kerja keras, kesabaran, dan ketekunan dalam menjalani proses.
Sebagai penutup, beliau menegaskan bahwa tidak ada ruang untuk kesombongan di pesantren.
Semua santri berada pada posisi yang sama. Yang membedakan hanyalah kesungguhan dalam menuntut ilmu dan memperbaiki diri,” pungkas beliau.
Dengan kesungguhan itu, beliau optimis para santri kelak akan menjadi pribadi yang membanggakan, baik bagi guru, orang tua maupun masyarakat. (*)
————————————-
Pewarta: Silfin Aisyah
Editor: Fathorrozi


