SILATNAS FKPM Salafiyah di Nurul Qarnain Dihadiri Ratusan Peserta dari Berbagai Daerah, Usung Tema Menjaga Manhaj di Tingkat Nasional

JEMBER | nurulqarnain.net – Pondok Pesantren Nurul Qarnain menjadi tuan rumah Silaturahim Nasional (SILATNAS) Forum Komunikasi Pesantren Muadalah (FKPM) Salafiyah tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (11/04/2024) di Auditorium KH. Yazid Karimullah ini menghadirkan para kiai, pengasuh, dan pimpinan pesantren muadalah dari berbagai penjuru Indonesia.

Mengusung tema “Teguh pada Manhaj, Adaptif terhadap Zaman: Tradisi, Mutu dan Relevansi Pesantren Salafiyah”, forum ini menjadi ruang silaturahim sekaligus diskusi bersama terkait arah penguatan pendidikan pesantren muadalah.

Sambutan pengasuh yang diwakili Ketua Dewan Pendidikan, KH. Badrut Tamam, M.H.I., menyampaikan bahwa penunjukan Nurul Qarnain sebagai tuan rumah merupakan amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Beliau juga menyinggung kondisi pesantren yang berada di kawasan pedesaan dengan akses yang tidak mudah, namun tetap mampu berkembang.

“Pesantren ini berada di desa, jalurnya tidak mudah. Tapi dari sini, kita belajar bahwa kekuatan pesantren tidak ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh kesungguhan,” ujar beliau.

Beliau juga memaparkan perkembangan pesantren yang saat ini menaungi sekitar 3.000 santri, dengan berbagai lembaga pendidikan yang aktif serta capaian prestasi di tingkat nasional dan internasional.

Peserta SILATNAS berasal dari berbagai daerah, mulai dari Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Sumatera hingga Aceh. Kehadiran lintas wilayah ini menunjukkan keterlibatan luas pesantren muadalah dalam forum nasional tersebut.

Koordinator FKPM Salafiyah, Dr. KH. Ahmad Taufiq AR, M.Si., dalam arahannya menyampaikan bahwa SILATNAS merupakan forum untuk membahas posisi dan penguatan pendidikan pesantren dalam sistem pendidikan nasional.

“Tantangan kita hari ini adalah bagaimana pendidikan pesantren tidak dipandang sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian integral dari sistem pendidikan,” tambah beliau.

KH. Ahmad Taufiq juga menekankan pentingnya menjaga manhaj salafiyah, sekaligus memperkuat pengakuan terhadap pesantren tanpa harus mengubah identitasnya.

“Kita tidak perlu menggeser manhaj. Yang perlu kita lakukan adalah memperkuat rekognisi,” tegasnya.

Selain itu, beliau menyoroti pentingnya penguatan jejaring antar pesantren sebagai bagian dari upaya bersama dalam menghadapi berbagai tantangan pendidikan.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kolaborasi,” imbuhnya.

Dalam forum tersebut juga disampaikan arahan terkait penguatan kelembagaan FKPM. Disebutkan bahwa FKPM saat ini berada di bawah kepemimpinan Kiai Amal Fathullah Zarkasyi. Beberapa langkah yang menjadi perhatian dalam forum di antaranya pembentukan struktur kepengurusan melalui penentuan ketua FKPM, penyiapan calon ahlul halli wal aqdi, serta pengagendaan silaturahim secara rutin setiap tahun.

Kepala Bidang Pondok Pesantren (Kabid Pontren) Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur, Dr. Imam Turmudzi, turut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini di Jawa Timur. Beliau menilai pesantren memiliki peran penting dalam memberikan kontribusi bagi masyarakat.

“Jangan sampai kita meninggalkan dunia ini tanpa meninggalkan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.

Kegiatan SILATNAS ini diakhiri dengan sesi diskusi dan perumusan beberapa poin penting yang akan menjadi tindak lanjut bersama dalam penguatan pesantren muadalah di berbagai daerah. (*)

——————————–

Pewarta: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *