Koordinator FKPM, KH. Ahmad Taufiq di SILATNAS Tegaskan Nurul Qarnain Laksana Gentong

JEMBER | nurulqarnain.net – Silaturahim Nasional (SILATNAS) Forum Komunikasi Pesantren Muadalah (FKPM) Salafiyah di Pondok Pesantren Nurul Qarnain pada Sabtu (11/04/2026) menjadi ruang penyampaian arah dan evaluasi perkembangan pesantren muadalah secara nasional. Dalam sambutannya, Koordinator FKPM Salafiyah, Dr. KH. Ahmad Taufiq AR, M.Si., menekankan pentingnya penguatan posisi pesantren di tengah dinamika pendidikan nasional.

Beliau membuka sambutan dengan menyampaikan ucapan selamat datang kepada para tokoh yang hadir, di antaranya KH. Lukman Haris Dimyati, Dr. KH. Ach. Muhyiddin Khotib, M.H.I, Ketua AMALY Dr. KH. Nur Salikin yang hadir dari Jakarta, serta Dr. Imam Turmudzi dari Kanwil Kemenag Jawa Timur. Hadir pula sejumlah kiai dan pimpinan pesantren muallimin dari berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, SILATNAS kali ini merupakan gelaran ketujuh sejak FKPM dibentuk. Beliau menelusuri perjalanan forum ini, mulai dari pertemuan awal di Pondok Pesantren Mathaliul Falah Kajen pada 2019, kemudian berlanjut di Pasuruan, Tasikmalaya, Wonosobo, hingga Masjid Raya Aceh.

“Setiap tahun ada perkembangan. SILATNAS ini bukan hanya pertemuan, tetapi indikator bahwa pesantren muadalah terus bergerak,” ujarnya.

KH. Ahmad Taufiq juga menggambarkan Nurul Qarnain sebagai pesantren yang secara geografis berada di “pojok”, namun memiliki kekuatan besar.

“Seperti gentong, pintunya kecil tapi isinya banyak. Apalagi Ma’had Aly-nya yang mengambil fokus Fikih Siyasah. Dari itu, kita tahu bahwa dari desa politik besar bisa lahir, bahkan dari tingkat nasional hingga internasional prestasinya terbukti,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, beliau menyoroti pertumbuhan signifikan pesantren muadalah dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya hanya puluhan pesantren yang terlibat, kini jumlah peserta SILATNAS mencapai 96 pesantren. Secara nasional, satuan pendidikan muadalah dan muallimin juga mengalami peningkatan pesat.

“Sejak tahun 2020, perkembangannya sangat cepat, bahkan mencapai sekitar 500 persen. Saat ini tercatat ratusan satuan pendidikan muadalah yang ada di Indonesia saat ini,” jelasnya.

Meski demikian, beliau mengingatkan bahwa jumlah tersebut masih kecil dibandingkan total pesantren di Indonesia yang mencapai ribuan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama untuk mendorong lebih banyak pesantren mengembangkan pendidikan formal berbasis muadalah hingga Ma’had Aly.

“Tantangannya adalah bagaimana kita menunjukkan bahwa pendidikan pesantren ini sejajar, bukan di luar sistem, tetapi bagian integral dari pendidikan nasional,” tegasnya.

KH. Ahmad Taufiq juga menekankan bahwa penguatan pesantren tidak harus mengorbankan identitas. Menurutnya, manhaj salafiyah tetap menjadi pijakan utama.

“Kita tidak perlu bergeser dari manhaj. Tapi kita harus mampu membangun pengakuan, agar pesantren tetap diakui tanpa kehilangan jati dirinya yang telah lalu dan dipertahankan hingga seterusnya,” ujarnya.

Selain itu, beliau menyoroti pula pentingnya kolaborasi antar pesantren. Menurutnya, tantangan yang dihadapi saat ini tidak bisa diselesaikan secara sendiri-sendiri.

“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada penguatan jaringan. Dengan kolaborasi, kita akan lebih kuat,” imbuhnya.

Dalam forum tersebut, beliau juga menyampaikan bahwa SILATNAS menjadi ruang diskusi dan perumusan langkah konkret, termasuk persiapan asesmen bagi pesantren muadalah.

Disebutkan bahwa dari sejumlah asesmen yang telah dilakukan, sebagian besar memperoleh hasil yang memuaskan, meskipun masih ada yang perlu ditingkatkan. (*)

——————————-

Juru Berita: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *