Beliau mengajak jamaah mengulik kembali kisah keluarga Nabi Ibrahim, sosok agung bersama putranya, Nabi Ismail, dan istrinya, Siti Hajar, yang bukan hanya mewariskan jejak, tetapi juga membangun fondasi peradaban Islam.

“Kisah Nabi Ibrahim bukan sekadar untuk dikenang dan dibacakan di berbagai majelis dan masjid, namun kisah hidup beliau sebagai pencatatan sejarah ibadah Sa’i, pancuran zamzam, dan Ka’bah yang dibangun dengan cinta dan tunduk kepada Allah,” ungkap Ustaz Rawakid.
Beliau mengajak jamaah khususnya para santri untuk tidak hanya menjadi pendengar sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah itu sendiri, yakni menjadi sejarah kebaikan, perjuangan, dan ketakwaan.
“Jangan sampai hidup kita hanya berlalu tanpa bekas. Bahkan yang lebih menyakitkan lagi, jika sejarah hidup kita justru menjadi catatan buruk,” sambung beliau.

Dalam khutbahnya, Ustaz Rawakid menyisipkan perenungan tajam, “Bagi yang sudah mampu meneladani Nabi Ibrahim, bersyukurlah! Karena hal tersebut merupakan tanda turunnya taufik dari Allah. Tapi, bagi yang belum mampu berbuat baik, sadarilah bahwa hidup terbaik adalah yang paling bermanfaat.”
Beliau menambahkan pula, jika belum mampu memberi manfaat, maka setidaknya kita harus sadar terhadap ‘kepulangan’ kita kepada Allah.
“Siapkah kita kembali dengan gelar ahli maksiat? Ataukah kita berjuang, agar kelak kembali dengan predikat muttaqin, orang yang taat, dan dekat di sisi-Nya?” pungkas beliau. (*)
—————————————
Reporter: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


