Dalam mauizahnya, Kiai Fawaid menekankan betapa pentingnya tali batin antara alumni dan pesantren.
“Alumni meskipun sudah di rumah, harus tetap menyambung zahir batin ke pesantren. Zahir dengan hadir ke pondok, dan batin dengan cara saling mendoakan dari rumah. Itulah cara kita agar tetap saling terhubung,” tutur beliau membuka nasihat.

Beliau juga menyinggung soal alumni sebagai wajah cerminan dari pesantren itu sendiri, “Pesantren itu maju tidaknnya ditentukan oleh alumni. Kalau tatakrama alumni bagus, mapan, dan ngajak orang lain ke arah kebaikan, maka pesantren akan disebut maju. Tapi, jika alumni malah tidak puasa, sibuk TikTok-an, ya… jangan harap ada orang mau memondokkan anaknya ke pesantren.”
Kiai Fawaid juga mengingatkan bahwa alumni adalah benteng pertama saat muncul prasangka atau fitnah terhadap pesantren. Beliau berharap alumni yang akan terjun ke tengah-tengah masyarakat ini sebisa mungkin turut meluruskan isu-isu miring mengenai pesantren.

“Kalau ada kabar miring, seperti biaya di Pondok Pesantren Nurul Qarnain itu mahal, untuk pulang harus bayar sekian juta, maka tugas alumni harus bisa menjelaskan dan meluruskan. Kalau tidak tahu kebenarannya, maka tanya ke pondok dan ke alumni lain yang lebih tahu. Jangan malah ikut-ikutan menyebarkan kabar miring,” pesan beliau tegas.
Beliau lalu menegaskan pentingnya istikamah dalam menjaga amalan harian, terutama zikir-zikir yang selama ini telah dibiasakan di pesantren.
“Barangsiapa yang menanam, dia yang akan memanen. Kalau kalian dari sekarang menanam bibit seperti membaca surat al-Waqi’ah, niscaya kalian akan panen dan rejeki akan permudah. Tapi, kalau tidak menanam, apa yang mau dipanen?” imbuh beliau.

Tak hanya memberi nasihat perihal kepesantrenan, Kiai Fawaid juga membekali para calon alumni dengan wirid-wirid pilihan sebagai bekal spiritual di luar pondok. Di antaranya dengan membaca surat al-Waqi’ah setelah salat Ashar atau sebelum Maghrib sebanyak 3 hingga 14 kali untuk kelancaran rezeki, serta membaca beberapa surah pendek al-Qur’an masing-masing 3 kali sebelum Maghrib sebagai benteng dari gangguan lahir dan penyakit batin. (*)
—————————————
Pewarta: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


