Di tengah suasana penuh haru dan keikhlasan dalam berkurban, beliau membuka kisah tentang pentingnya takzim kepada guru dan bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat.
“Guru saya (KH. Syamsul Arifin Abdullah, Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Mlokorejo) pagi ini wafat di Makkah. Saya tidak pernah membeda-bedakan dalam menghormati guru. Kalau guru dawuh, saya lihat wajahnya. Biar barakah-nya nyambung,” tutur beliau, mengajak para santri bermuhasabah.

“Ini yang saya pegang dan harus dicontoh oleh para santri. Jangan sampai membeda-bedakan guru!” pesan tegas Kiai Yazid.
Kiai Yazid melanjutkan dengan menggugah kesadaran tentang kematian dan dahsyatnya pertanyaan di alam kubur.
“Setiap orang yang wafat pasti akan menjalani fitnah kubur. Dua malaikat yang garang, Munkar dan Nakir, akan datang bertanya. Dan semua amal akan menentukan ke mana ruh ditempatkan. Bagi yang baik akan dihaturkan ke ‘illiyyin, dan bagi yang durhaka akan diseret ke sijjin,” imbuh beliau.
Beliau menekankan pentingnya amal jariyah dan perbuatan baik semasa hidup, karena ruh yang sudah meninggal tidak bisa lagi berbuat apa-apa.
“Kalau ingin amal tak terputus, tambahi amalnya. Beruntunglah orang tua yang memondokkan anaknya ke pesantren. Anak yang mondok, belajar sungguh-sungguh, itu juga termasuk amal yang terus mengalir untuk orang tua, karena anak-anak tersebut juga mendoakan kedua orang tuanya,” sambung beliau.

Dalam suasana Idul Adha yang sarat makna pengorbanan, Kiai Yazid juga menyampaikan, “Ilmu dunia dan akhirat itu ada di pesantren. Jika daging tumbuh dari harta haram, kelak akan jadi incaran api neraka. Maka, selamat bagi santri yang mondok, karena ia sedang menanam amal. Hidup ini seperti menanam jagung, apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai.”
Sebelum menutup mauizahnya, beliau bertutur, “Semoga di hari yang mustajab ini, kita semua diberi taufik agar terus mempersiapkan bekal untuk pulang kepada Allah dengan husnul khatimah.” (*)
————————————–
Juru Berita: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


