Acara yang bertempat di Auditorium KH. Yazid Karimullah ini dimulai sekitar pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini dibuka oleh master of ceremony Ustazah Malia selaku santri Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Setelah mengawali acara dengan pembacaan umul Qur’an yang diikuti oleh hadirin, kemudian dilanjutkan dengan lantunan kalam ilahi oleh Yuzana Yusuf al-Hamdani. Diteruskan pembacaan Ratibul Haddad oleh Nyai Hj. Fitri, lalu pembacaan istigasah yang dipimpin oleh Ning Faridatul Gufroniyah, M.H.I. Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Yahlal Wathan, Mars IKSASS, dan lagu Satu Hati.
Sambutan disampaikan oleh Ketua Tanfidzi Rayon IKSASS Jember, KH. Abdul Aziz, S.Ag. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapan almarhum KHR. Ahmad Fawaid As’ad agar IKSASS Jember segera mempunyai kantor. Untuk mewujudkannya, kantor Rayon IKSASS Jember yang kini tengah dibangun mencapai 70% tersebut, beliau bertutur butuh uluran dan perhatian dari alumni demi penyelesaian.
“Di mana sekarang usia IKSASS sudah 36 tahun. Dipandang dari usia itu, sudah akan mencapai kesempurnaan di usia 40. Oleh karena itu, memang sudah sepantasnya IKSASS Jember memiliki rumah,” ucap beliau.
Usai itu, acara dilanjutkan dengan Shalawat Nabi oleh Jam’iyah Hadrah At-Tazkiyah. Kemudian pemotongan tumpeng oleh Nyai Hj. Djuwairiyah Fawaid, S.Ag., M.Pd., Ph.D., yang didampingi oleh Ning Hj. Zulfa Yazid, S.Sos.I, M.Pd.

Dalam sambutannya, beliau memberikan doa semoga IKSASS diberikan kemudahan dalam berjuang, sehingga berjuang mengabdi tanpa batas bukan sekadar slogan yang selalu digemakan.
“Kita paham bahwa posisi hidup kita itu siklus. Yang dikatakan siklus, hidup itu sama, dari generasi ke generasi, antara zaman ke zaman. Hakikat kehidupan itu bagaimana kita berpegang teguh kepada Allah dan ajaran Nabi Muhammad SAW,” jelas beliau.
Pada kesempatan tersebut, beliau juga mengurai tentang uzlah pada zaman serba canggih seperti saat ini. Beliau bertutur, zaman sekarang semua manusia tak bisa jauh dari handphone.
“Kalau kita mau uzlah, tak harus sama dengan uzlahnya para wali, ulama terdahulu, dan guru-guru besar kita, seperti uzlah di gunung, napak tilas, dan sebagainya. Sekarang uzlah atau riyadah kita adalah jangan sering-sering pegang handphone,” imbuh beliau.

Berikutnya, Nyai Hj. Djuwairiyah Fawaid menegaskan bahwa hidup harus berarti. Setiap hari hidup harus diisi dengan perbuatan-perbuatan yang bernilai ibadah.
“Jangan sampai hidup kita tidak punya arti. Setiap harinya harus ada nilai ibadah.”
Beliau juga berpesan agar hidup di dunia ini jangan sekadar mencari kesenangan semata.
“Orang yang mengandalkan kesenangan, ia akan punah,” pungkasnya. (*)
————————————
Pewarta: Fita Lalia
Editor: Fathorrozi


