Dalam pandangan beliau, ada serangkaian konsekuensi yang muncul ketika seseorang terlalu larut dalam kenikmatan dunia. Kebiasaan mengejar kesenangan duniawi membuat seseorang cenderung mengabaikan kualitas ibadahnya. Ibadah yang seharusnya menjadi prioritas hidup, dilakukan secara terburu-buru dan asal selesai. Lebih jauh lagi, hal ini membuka pintu bagi dosa yang lebih besar, seperti meninggalkan salat dengan sengaja. Dalam pandangan beliau, jika seseorang berani meninggalkan salat satu kali, ia akan lebih mudah melakukannya lagi di lain waktu.
Dari sini, pola perilaku tersebut berkembang menjadi tindakan yang lebih berbahaya, yakni mengonsumsi makanan atau minuman yang tidak halal, menjadi orang yang secara konsisten meninggalkan shalat (tarikus salat), hingga hanya mengingat Tuhan ketika musibah datang. Hal yang lebih tragis adalah ketika musibah berakhir, ibadah pun ditinggalkan lagi, seakan-akan hubungan dengan Tuhan hanya berlaku saat sedang tertimpa kesulitan. Siklus ini, jika terus berlanjut, bisa berujung pada kekufuran, atau kufrun ni’mah (kekafiran atas nikmat Allah).
KH. Badrud Tamam mengingatkan kita bahwa nikmat duniawi sering kali membuat kita ingin kenikmatan itu bertahan lama, sementara ibadah kepada Allah justru ingin cepat diselesaikan. Ini adalah tanda-tanda awal dari bibit nifaq dan fisq yang jika tidak segera diatasi, dapat menggerus iman seseorang secara perlahan. Kesenangan duniawi yang bersifat sementara ini, jika tidak diimbangi dengan kesadaran spiritual yang kuat, dapat menjauhkan seseorang dari ibadah yang ikhlas dan teratur.
Pesan ini relevan dengan kehidupan modern, di mana banyak orang terjebak dalam kemewahan dan kenikmatan dunia tanpa memikirkan dampak spiritualnya. KH. Badrud Tamam mengajak kita semua untuk kembali menyeimbangkan hidup, mengutamakan ibadah, dan menjaga diri dari terlena dalam kesenangan dunia yang bisa menjerumuskan kita ke dalam keburukan yang lebih besar. (*)
———————————–
Pewarta: Zaenol Hasan
Editor: Fathorrozi


