Dengan menggunakan tiga bahasa, yakni bahasa Indonesia, bahasa Arab, dan bahasa Inggris, acara ini dipandu oleh tiga pembawa acara (MC) secara bergantian. Acara kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Yahlal Wathan, dan Mars Pesantren oleh seluruh peserta yang turut larut dalam suasana penuh rasa cinta tanah air, dengan dipandu oleh Majelis Hadrah Nidaul Aswaq.
Dalam sambutannya, Ning Hj. Zulfa Yazid, S.Sos.I., M.Pd., menyampaikan pesan penting tentang peran santri dalam membangun masa depan. Beliau menekankan pentingnya ilmu dan akhlak sebagai bekal utama para santri.

“Tugas seorang santri adalah belajar, belajar, dan belajar. Santri harus berilmu dan berakhlakul karimah, karena santri adalah warasatul anbiya’ (pewaris para nabi) yang akan melanjutkan perjuangan para nabi dan ulama,” tutur Ning Hj. Zulfa kepada seluruh santri putri.
Beliau juga mengingatkan santri tentang jihad terbesar mereka saat ini, yaitu melawan kemalasan. Ning Hj. Zulfa mengajak santri untuk memanfaatkan waktu di pesantren dengan sebaik-baiknya dalam menimba ilmu.
“Sekarang bukan waktunya untuk bermalas-malasan, tetapi waktunya berjuang dalam mencari ilmu. Jika kalian sekarang malas, yang kalian dapatkan nanti hanyalah kepahitan. Ingatlah, tujuan kalian datang ke pesantren adalah untuk mengaji dan mengabdi,” lanjut beliau.
Harapannya, melalui peringatan Hari Santri ini, para santri dapat meningkatkan semangat belajar dan kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan dan akhlak mulia. Ning Hj. Zulfa juga mengajak seluruh santri untuk menata kembali niat mereka, agar menjadi pribadi yang lebih baik di masa yang akan datang.

Agenda acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Burdah dan shalawat yang dipimpin oleh Majelis Hadrah Nidaul Asywaq. Suasana menjadi semakin larut dengan lantunan shalawat yang menghangatkan hati para santri.
Sebagai penutup pada acara Doa Santri untuk Negeri tersebut, para santri bersama-sama menyaksikan film Sang Kyai, sebuah film yang mengisahkan perjuangan KH. Hasyim Asy’ari dan peristiwa penting di balik Resolusi Jihad yang menjadi dasar ditetapkannya Hari Santri Nasional.
Dengan adanya acara ini, diharapkan para santri semakin memahami dan menghargai perjuangan para ulama dan santri terdahulu dalam menjaga persatuan bangsa dan agama. Semoga semangat juang dan kebersamaan yang diteladani dari para pendahulu, terus tertanam dalam diri setiap santri demi menghadapi tantangan masa depan. (*)
————————————
Pewarta: Safiroh Adania & Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


