Dalam sambutannya, beliau mengaku tetap memaksakan hadir meskipun kondisi fisiknya sudah tidak kuat berjalan jauh. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para masyayikh dan ilmu yang selama ini diperjuangkan di pesantren.
“Sebenarnya saya sudah tidak mampu berjalan dari rumah ke auditorium ini. Tetapi saya ingin menghormat kepada para masyayikh dan menghormat kepada ilmu, baik ilmu Al-Qur’an maupun ilmu-ilmu lainnya,” dawuh beliau.
Menurut KH. Yazid Karimullah, acara kelulusan bukan sekadar seremoni akademik, tetapi bentuk penutup dari proses panjang perjuangan menuntut ilmu yang harus dijaga keberkahannya.

Beliau juga mengenang cita-citanya sejak tahun 1967 yang ingin membangun pesantren dan lembaga pendidikan untuk memperkuat umat Islam agar tidak terus bergantung kepada orang lain.
“Saya sejak dulu memikirkan bagaimana umat Islam bisa mandiri. Karena itu saya ingin membangun pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan, termasuk muadalah, agar lahir generasi yang bertakwa dan mampu sukses dunia akhirat,” ujarnya.
Kepada para lulusan, beliau berpesan agar tetap menjaga akhlak dan identitas kesantrian di mana pun berada.
“Di mana pun kalian duduk, di mana pun kalian menjabat, bawalah akhlak santri. Santri Nurul Qarnain ada di mana-mana, tetapi tidak ke mana-mana,” pesannya.
Sementara itu, orasi ilmiah disampaikan oleh Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Jalaluddin Ar-Rumi Jenggawah Jember, KH. Moh. Al-Faiz, Lc., S.S.I,. M.Ag. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak para lulusan memahami filosofi bantal sebagai simbol kebermanfaatan.
“Kenapa harus bantal? Karena tidak ada benda yang paling dicari ketika lelah selain bantal. Kepala, anggota tubuh paling mulia, diletakkan di atasnya. Maka, jadilah orang yang dibutuhkan dan dipercaya masyarakat,” ungkapnya.

Beliau menegaskan bahwa lulusan pesantren harus hadir memberi manfaat tanpa sibuk menunjukkan identitas atau merasa paling baik.
“Lakukan yang terbaik untuk masyarakat tanpa mengharap imbalan. Tetapi jangan pernah merasa paling benar dan paling hebat,” tegasnya.
KH. Al-Faiz juga mengingatkan pentingnya terus mencari ilmu dan tidak merasa cukup dengan pengetahuan yang dimiliki.
“Ketika seseorang merasa sudah pintar dan tidak mau belajar lagi, di situlah awal kebodohan sebenarnya dimulai,” tuturnya.
Menurutnya, ilmu merupakan sesuatu yang mulia dan memiliki tanggung jawab besar bagi pemiliknya. Karena itu, ilmu harus dijaga dengan akhlak dan digunakan untuk memberi manfaat bagi sesama. (*)
————————————
Juru Berita: Sulthon Arafat
Editor: Fathorrozi


