Kehadiran Kepala MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain, Lora H. Achmad Nakhlid Syafi’i, S.E., M.H., yang didampingi Bapak Yusron Hafid, S.Pd., saat itu tak sekadar formalitas, namun cerminan niat tulus untuk mempererat ikatan silaturahmi antar-lembaga, sekaligus menggali inspirasi dari model pendidikan unggulan Madrasah Aliyah Istiqlal.
Madrasah Aliyah Istiqlal dikenal sebagai madrasah dengan akreditasi A yang mengusung visi lembaga “berkarakter, mandiri, prima, dan berwawasan global.” Program unggulan seperti Tahfiz Qur’an, Multimedia, Curiculum Cambridge, dan riset menunjukkan bahwa madrasah ini tidak hanya menancapkan akar agama, tetapi juga menerbangkan sayap akademik di ranah internasional.
Selama kunjungan, suasana dipenuhi rasa kagum. Beliau berdua, delegasi dari Nurul Qarnain berkeliling melihat kelas-kelas dan juga fasilitas asrama yang menjadi bagian dari Istiqlal Boarding School (IBS). IBS menggunakan kurikulum pesantren klasik yang berpadu dengan semangat modern, bahkan setara kurikulum Al-Azhar Kairo, Mesir.
Dalam dialog hangat, Lora H. Achmad Nakhlid Syafi’i menyampaikan apresiasi atas inovasi pendidikan di Istiqlal, terutama kombinasi karakter Islam dan riset ilmiah. Beliau mengungkapkan rasa haru jika melihat generasi muda yang dibina di MA Plus Keterampilan Nurul Qarnain bisa belajar dari lembaga sekelas Istiqlal, dan berharap kolaborasi ini bisa berdampak baik bagi madrasah dan pesantren.

Bapak Yusron Hafid, dengan gaya lembut dan tegas, menambahkan bahwa kunjungan ini merupakan langkah nyata memperkuat jejaring pendidikan madrasah, menyulam semangat ukhuwah antara guru, santri, dan pimpinan kedua lembaga.
“Dengan saling belajar dan berbagi, kita bisa menjadikan madrasah kita lebih berkelanjutan, berdaya saing, dan tetap berakar di nilai-nilai Islam,” ujarnya.
Dari sisi Madrasah Aliyah Istiqlal, sambutan hangat tidak hanya datang dari pimpinan, tetapi juga para santri dan guru. Mereka dengan senang hati membuka pintu kelas, memperlihatkan bagaimana metode pembelajarannya.
Kebersamaan di hari itu menjadi simbol persatuan visi bahwa pendidikan Islam modern tidak harus meninggalkan tradisi pesantren, dan bahwa semangat ilmiah bisa berkembang dalam bingkai keimanan. Di area Masjid Istiqlal yang agung, dua madrasah dari latar belakang berbeda bertemu, berdialog, dan menanam benih kolaborasi.
Semoga silaturahmi dan studi banding ini menjadi langkah, inspirasi, menemukan gagasan cemerlang sebagaimana lentera di malam hari. Silaturahmi ini diharapkan menerangi jalan generasi penerus agar tumbuh berilmu, berakhlak, dan berkontribusi bagi masyarakat luas. (*)
—————————————
Juru Berita: M. Akmal Marzuqin
Editor: Fathorrozi


