Pesan tersebut disampaikan KH. Muhammad Al-Faiz Sa’di Amir, Lc., M.Ag., Pengasuh Pondok Pesantren Jalaluddin Ar Rumi Jenggawah, Jember, dalam ceramah agama kedua pada rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Nurul Qarnain, pada Kamis malam Jumat (27/08/2026).
Beliau mengawali ceramah dengan menyampaikan kisah kekaguman seorang bapak (yang memiliki anak perempuan) terhadap sosok santri. Menurut beliau, pendidikan pesantren tidak hanya membentuk seseorang dari sisi keilmuan, tetapi juga menanamkan nilai persaudaraan dan kepedulian.
“Apa yang menarik dan membuat saya terobsesi untuk memiliki menantu seorang santri? Kata bapak itu, karena santri ke mana-mana selalu mendekap kitab. Kitab saja didekap, apalagi anak saya,” terangnya.
Memasuki pembahasan tentang Maulid Nabi, beliau mengajak jamaah menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW sejak dini, termasuk kepada anak-anak. Menurut beliau, kelahiran Rasulullah menjadi salah satu momentum penting yang mengingatkan umat terhadap sosok yang memiliki kedudukan mulia.

“Tanamkan kepada diri kita dan anak kita kecintaan kepada Rasulullah yang begitu dalam,” tutur beliau.
Gus Faiz kemudian mengisahkan para sahabat yang memiliki cinta luar biasa kepada Rasulullah SAW. Cinta tersebut bahkan membuat mereka begitu memperhatikan segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah dan berharap memperoleh keberkahannya.
“Cinta itu tidak mengubah benda, tetapi mengubah cara pandang kita kepada sesuatu yang kita cintai,” jelas beliau.
Dalam ceramahnya, beliau juga mengajak para santri untuk menjadikan aktivitas sehari-hari sebagai kesempatan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW.
“Di mana pun kalian berada, jadikan aktivitas harian kita kesempatan untuk selalu bershalawat kepada Rasulullah,” pesannya.
Selain menjelaskan tentang kecintaan kepada Rasulullah, beliau mengingatkan jamaah agar tidak mengukur kemuliaan seseorang hanya berdasarkan kecerdasan atau kemampuan yang dimiliki.
“Belum tentu anak yang cerdas itu diridai oleh Allah, dan belum tentu yang tidak cerdas itu tidak diridai oleh Allah,” dawuh beliau.
Beliau kemudian memperkenalkan konsep manhajun Nabi, yakni menjadikan tuntunan Rasulullah sebagai metode dalam menghadapi persoalan dan mencari jalan keluar.
Menurut beliau, ketika menghadapi masalah, seorang Muslim harus terlebih dahulu datang kepada Allah SWT dengan penuh harap dan kepasrahan, kemudian berusaha mencari jalan penyelesaian.

“Datanglah dahulu kepada Allah dan carilah jalan keluarnya,” ungkap beliau.
Pesan berikutnya berkaitan dengan bagaimana seseorang menyikapi nikmat. Beliau mengingatkan agar tidak menyia-nyiakan nikmat sekecil apa pun yang telah diberikan oleh Allah SWT.
“Hati-hati, jangan sampai bosan atas nikmat Allah. Apabila bosan, maka nikmat itu akan berubah menjadi sebuah musibah,” tutur beliau.
Menurut beliau, tidak semua sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan harus dipandang sebagai musibah. Dalam keadaan tertentu, sesuatu yang awalnya dianggap buruk justru dapat menjadi jalan datangnya hidayah dari Allah SWT.
“Realita yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita terkadang kita melihatnya sebagai musibah. Tetapi kalau kita telaah lebih dalam, sesuatu yang kita anggap sebagai musibah itu bisa menjadi hidayah untuk kita dari Allah,” jelas beliau.
Melalui tausiah tersebut, jamaah diajak menjadikan Maulid Nabi bukan hanya sebagai momentum mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai kesempatan memperkuat kecintaan, memperbanyak shalawat, meneladani beliau, serta belajar mensyukuri setiap nikmat Allah SWT.
Ceramah kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh KH. Muhammad Al-Faiz Sa’di Amir, Lc., M.Ag. (*)
—————————————
Pewarta: Sulthon Arafat
Editor: Fathorrozi


