Tausiah KH. Tauhidullah Badri Masduki: Cinta kepada Rasulullah Harus Tampak dalam Akhlak

JEMBER | nurulqarnain.net – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Nurul Qarnain menjadi momentum untuk kembali meneguhkan kecintaan umat kepada Rasulullah SAW. Tidak sekadar mengenang kelahiran beliau, peringatan yang digelar pada Kamis malam Jumat (27/08/2026) tersebut juga diisi dengan pesan tentang pentingnya menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan itu disampaikan KH. Tauhidullah Badri Masduki, Pengasuh Pondok Pesantren Badridduja Kraksaan, Probolinggo, dalam ceramah agama pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Nurul Qarnain.

Dalam tausiahnya, beliau mengajak para jamaah untuk memaknai kehadiran dalam majelis Maulid sebagai bagian dari ikhtiar mengikuti perintah Allah SWT dan teladan Rasulullah SAW.

“Kita duduk bersama dalam rangka mengikuti apa yang difirmankan oleh Allah dan apa yang dilakukan oleh Rasulullah,” tutur beliau.

Beliau menuturkan, umat Islam mendapatkan nikmat iman dan Islam, salah satunya karena kehadiran Rasulullah SAW sebagai rahmatan lil ‘alamin. Oleh karena itu, kecintaan kepada Rasulullah tidak seharusnya hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga dengan mengikuti akhlak dan perilaku beliau.

“Cinta kepada Rasulullah bukan hanya bermanfaat di dunia, tetapi di akhirat juga sangat bermakna,” imbuh beliau.

KH. Tauhidullah kemudian menjelaskan bahwa cinta memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter seseorang. Orang yang mencintai sosok tertentu akan memiliki kecenderungan untuk mengikuti karakter, sikap, bahkan kebiasaan orang yang dicintainya.

Beliau mencontohkan para sahabat dan ulama terdahulu yang memiliki kecintaan mendalam kepada Rasulullah SAW. Kecintaan tersebut membuat mereka begitu memperhatikan kehidupan Rasulullah, termasuk berbagai perilaku beliau yang sederhana.

Menurut beliau, kecintaan semacam itu semestinya menjadi spirit bagi umat Islam untuk semakin mengenal kehidupan Rasulullah. Sebab, semakin seseorang mengenal Rasulullah, semakin besar pula peluang tumbuhnya kecintaan dan keinginan untuk meneladaninya.

Beliau juga mengingatkan bahwa keteladanan Rasulullah SAW sangat luas, termasuk dalam memperlakukan orang lain. Rasulullah dikenal memiliki akhlak yang lembut, menjaga perasaan, tidak merendahkan orang lain, serta berusaha menyenangkan hati sesama.

“Jangan pernah meremehkan suatu kebaikan, sekecil apa pun kebaikan itu,” pesan beliau.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengangkat pentingnya menjaga aib orang lain. Menurut beliau, akhlak mulia bukan hanya tentang bagaimana seseorang beribadah kepada Allah, tetapi juga bagaimana ia menjaga kehormatan dan perasaan sesama manusia.

KH. Tauhidullah menjabarkan kisah Nabi Muhammad waktu berperan sebagai penyuap makanan kepada pengemis wanita buta di pasar yang selalu menghinanya, menjelaskan Baginda Nabi menjaga perasaan orang miskin yang menyuguhinya anggur kecut, juga menuturkan kisah ketika Sang Nabi dengan bijak memperbarui wudu yang diikuti oleh para sahabat demi menjaga perasaan seorang jamaah salat yang batal wudu sebab buang angin.

Tak lupa, beliau juga menguraikan kisah Syaikh Ahmad Hatim al-Asham yang memilih berpura-pura tidak mendengar ketika seorang perempuan merasa malu akibat sesuatu yang tidak disengaja. Sikap tersebut dilakukan agar perempuan itu tidak semakin merasa malu. Bagi beliau, tindakan demikian merupakan bentuk nyata dari menjaga perasaan dan kehormatan orang lain.

Oleh karena itu, KH. Tauhidullah mengajak para jamaah untuk tidak menjadikan Maulid Nabi sekadar momentum seremonial. Kecintaan kepada Rasulullah harus diwujudkan melalui perubahan perilaku.

“Kalau kita benar-benar mencintai Rasulullah, maka kita harus berusaha meniru akhlak beliau, mengikuti sunah beliau, memperbanyak shalawat, mempelajari kehidupan beliau dan berusaha menerapkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari,” tandas KH. Tauhid.

Beliau berharap kecintaan kepada Rasulullah SAW terus tumbuh dalam diri umat Islam, sehingga Maulid Nabi tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Nabi, tetapi juga menjadi jalan untuk memperbaiki akhlak dan mengikuti keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari. (*)

————————————-

Pewarta: Sulthon Arafat

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *