Acara yang berlangsung di Auditorium KH. Yazid Karimullah ini diikuti oleh 110 wisudawan, terdiri atas 33 lulusan Ma’had Aly dan 77 lulusan STIS.
Ma’had Aly Nurul Qarnain dikenal dengan fokus keilmuan Fikih Usul Fikih, khususnya takhassus Fikih Siyasah, sedangkan STIS menaungi dua program unggulan, Hukum Ekonomi Syariah (HES) dan Hukum Keluarga Islam (HKI). Para lulusan tahun ini menjadi bukti nyata kiprah pesantren dalam mencetak sarjana Islam yang berintegritas, berilmu, dan siap mengabdi untuk umat dan bangsa.

Acara ini turut dihadiri tokoh penting dari berbagai kalangan, di antaranya Dosen Fakultas MIPA Universitas Jember, Dr. Alfian Futuhul Hadi, S.If., M.H.I., dan Wakil Koordinator Kopertais IV Jawa Timur, Dr. KH. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag., serta jajaran pengasuh, wali wisudawan, dan pejabat daerah.
Rangkaian acara dibuka secara resmi oleh Ketua Dewan Pendidikan, KH. Badrut Tamam, M.H.I., dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Muhammad Sirfan dan laporan akademik oleh Wakil Ketua I STIS, Muhammad Firmansyah, M.H., M.Pd.
Dalam orasi ilmiahnya, Dr. Alfian Futuhul Hadi, M.H.I., menegaskan pentingnya sikap rendah hati bagi para sarjana.
“Kalian adalah generasi intelektual yang diharapkan bangsa. Jadilah ilmuwan yang terus belajar dan merasa rendah di hadapan ilmu, sebab kerendahan hati adalah sumber kemajuan,” pesannya.

Beliau juga menyoroti tantangan tiap bidang studi, mulai dari etika sosial bagi lulusan HKI hingga ketahanan intelektual bagi mahasiswa HES dan Fikih Usul Fikih.
Suasana hangat muncul saat Dr. KH. Ilhamullah Sumarkan, M.Ag., menyampaikan sambutan penuh humor, menyebut KH. Yazid Karimullah sebagai kiai bergelar KSPW (Kiai Sepuh Penuh Wibawa) dan KH. Fawaid Yazid sebagai KMPP (Kiai Muda Penuh Pesona).
Dalam sambutannya, beliau juga berpesan agar kampus pesantren terus bersinergi dengan pemerintah dan menumbuhkan semangat berprestasi.
“Hubungan keduanya jangan sampai seperti sinyal yang putus. Kalau sinyalnya kuat, dakwah dan pendidikan pun berjalan lancar,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, “Ketika STIS Nurul Qarnain naik menjadi Institut, para dosen harus lebih banyak yang bersertifikasi agar profesional dan bersemangat seperti kartu Smartfren, semangat meraih prestasi yang keren.”
Dua pesan besar mengalir dalam wisuda ini: kerendahan hati sebagai fondasi keilmuan dan kolaborasi sebagai kunci kemajuan lembaga. Pesan itu menegaskan arah Nurul Qarnain: mencetak sarjana yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi untuk kemaslahatan umat.

Momen mengharukan terjadi ketika KH. Yazid Karimullah memberikan taujihat wal irsyadat. Dengan nada lembut namun tegas, beliau menegaskan pentingnya pengamalan ilmu.
“Jangan sombong karena gelar, malu jika tidak berguna, sementara kalian sudah sarjana. Gunakan ilmu untuk kemaslahatan umat,” nasihat beliau.
Acara diakhiri dengan doa oleh KH. Fawaid Yazid dan penutupan resmi oleh KH. Badrut Tamam. Wisuda tahun ini menjadi penanda tekad baru: melahirkan generasi ulama intelektual yang berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi untuk peradaban Islam yang gemilang. (*)
———————————
Pewarta: Wildan Miftahussurur & Sulthon Arafat
Editor: Fathorrozi


