Puasa dari segi bahasa, berarti menahan diri. Sedangkan dari segi istilah syariat, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, menggauli pasangan dan segala yang dapat membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dengan bahasa yang lebih sederhana, Syeikh asy-Sya’rawi mengemukakan puasa adalah menahan diri dari syahwat perut dan syahwat kemaluan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dr. Wahbah az-Zuhaili menambahkan dengan kaliamat: seraya mengharap pahala dan rida Allah, serta niat mempersiapkan diri untuk meraih ketakwaan kepada Allah.
Dalam Tafsir Anbarsari dijelaskan bahwa puasa sudah dikenal semenjak peradaban Mesir kuno, Yunani kuno, Romawi kuno dan India kuno. Taurat dan Injil juga memuji orang-orang yang berpuasa. Bahkan, ibadah puasa pernah diwajibkan kepada para nabi dan umat-umat terdahulu semenjak Nabi Adam.
Sejarah kewajiban puasa Ramadan tidak terlepas dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw ke Yasrib. Puasa Ramadan mulai diwajibkan kepada Nabi Muhammad dan umatnya pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah. Dinukil dari buku Risalah Ramadan karya Afandi Mochtar dan Ibi Syatibi bahwa sebelum ayat wajib puasa turun, umat Islam biasa berpuasa wajib pada 10 Muharram atau Hari Asyura. Orang Yahudi berpuasa pada 10 Muharram, sebab pada tanggal tersebut Allah Swt menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dari serangan Raja Fir’aun. Maka, sebagai bentuk syukur Nabi Musa, ia berpuasa setiap tanggal 10 Muharram.
Masyakat muslim kebanyakan melaksanakan ibadah ini sebatas memenuhi kewajiban di bulan Ramadan. Tak jarang dari sebagian kalangan umat Islam belum mengetahui keutamaan-keutamaan ibadah puasa. Sebab itu, penting bagi kita untuk mengetahui hikmah dan keutamaan di balik puasa agar menambah semangat dan keikhlasan ibadah kita kepada Allah di bulan suci yang penuh keberkahan ini.
Abu Hamid al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin menyebutkan beberapa keutamaan puasa. Salah satunya beliau mengutip firman Allah Swt dalam hadis qudsi, “Setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali kebaikan yang sama, kecuali puasa karena puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang memberi ganjaran kepadanya.” (HR. Muslim).
Rasulullah Saw juga bersabda, “Demi Allah Yang Menguasai jiwa Muhammad, sungguh bau orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah Swt daripada bau minyak misik.” (HR. Bukhari).
Di dalam kitab al-Lu’lu’u wal Marjan yang disusun oleh Muhammad Fuad Abdul Baqi terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sahl yang menjelaskan bahwa di dalam surga ada satu pintu yang bernama Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk surga dari pintu itu pada hari kiamat kelak dan tidak akan ada seorang pun yang masuk surga dari pintu itu selain mereka.
Dalam hadis lain, Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Aku mendengar Nabi Saw bersabda, ‘Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh jarak 70 musim.'” (HR. Bukhari).
Dengan demikian, dari beberapa literatur yang telah disebutkan, betapa puasa itu kaya akan keutamaan. Melakukan ritual puasa memiliki segudang hikmah yang tak terbatas. Dan dalam pelaksanaannya, berpuasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, namun juga menahan dari perbuatan maksiat disertai ketulusan niat dan memperbanyak ibadah sunah agar puasa yang dijalankan bernilai tinggi di sisi Allah dan memperoleh pahala serta kebaikan yang tidak terkira. (*)
——————————–
Penulis: Silfin Aisyah, Mahasiswa STIS Nurul Qarnain Semester 4.
Editor: Fathorrozi


