Pengajian dan Istigasah FOKSA Nurul Qarnain, Gus Tamam Tekankan Pentingnya Menjaga Ruh Pesantren

JEMBER | nurulqarnain.net – Forum Komunikasi Santri Alumni (FOKSA) Nurul Qarnain kembali menggelar kegiatan Pengajian dan Istigasah yang berlangsung di kediaman Saudara Moch. Azhaim Ibrahim, Dusun Curah Mas, Desa Sumber Kalong, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, pada Ahad (17/05/2026). Kegiatan tersebut dihadiri oleh para alumni, pengurus pesantren, serta masyarakat sekitar dengan penuh khidmat dan kekeluargaan.

Pengajian kali ini menghadirkan Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain sekaligus Ketua Dewan Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Badrut Tamam, M.H.I., sebagai pemateri utama. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan apresiasi kepada seluruh alumni yang tetap meluangkan waktu untuk hadir meskipun memiliki kesibukan masing-masing.

“Kita semua ini orang sibuk. Ada yang menjadi kepala desa, guru, karyawan, dan lain sebagainya. Alumni Ma’had Aly minggu kemarin juga ada pertemuan, sekarang masih menyempatkan hadir lagi. Ini luar biasa,” ungkap beliau.

Dalam pengajiannya, Gus Tamam menegaskan bahwa tugas pengajar di pesantren tidak hanya sebatas menyampaikan ilmu, tetapi juga membangun kecintaan santri terhadap ilmu pengetahuan dan tradisi belajar.

“Yang menjadi pengajar di pesantren tidak sekadar mengajar ilmu, tetapi harus membuat santri cinta akan ilmu dan semangat belajar, khususnya membaca kitab. Karena jati diri santri paling tidak harus bisa membaca kitab,” tegasnya.

Beliau juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak, khususnya dalam mengenalkan hukum-hukum syariat Islam sejak dini. Menurutnya, tanggung jawab pendidikan agama pertama kali berada di tangan orang tua sebelum diserahkan kepada guru ngaji atau pesantren.

“Wajib bagi orang tua mengajarkan anaknya. Itu bukan semata tanggung jawab guru ngaji. Ketika orang tua tidak mampu, maka barulah diserahkan kepada guru untuk dididik,” jelasnya.

Selain itu, Gus Tamam juga menjelaskan besarnya perjuangan dan kekhawatiran orang tua terhadap anak-anaknya sejak dalam kandungan hingga dewasa.

“Orang tua itu tidak pernah selesai memikirkan anaknya. Saat dalam kandungan takut keguguran, ketika kecil takut sakit, saat remaja takut salah pergaulan, sampai menikah pun tetap dipikirkan,” tuturnya.

Beliau juga mengingatkan pentingnya kebersamaan seluruh pengurus dan elemen pesantren dalam memperjuangkan kemajuan Pondok Pesantren Nurul Qarnain. Menurutnya, pesantren saat ini telah memiliki banyak fasilitas dan lembaga pendidikan yang lengkap sehingga harus dijaga dan dikembangkan dengan sungguh-sungguh.

Di akhir tausiyahnya, Gus Tamam kembali menegaskan bahwa kitab kuning merupakan ruh utama pesantren yang tidak boleh ditinggalkan.

“Kalau pesantren sudah tidak belajar kitab kuning, maka itu bukan pesantren lagi. Ruh santri dan ruh pesantren ada pada kitab kuning,” tegasnya.

Beliau juga menceritakan perjuangan panjang Pondok Pesantren Nurul Qarnain dalam melahirkan kader-kader pengkaji kitab kuning hingga berkembang dan dikenal seperti saat ini. (*)

————————————-

Pewarta: Wildan Ms.

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *