Dalam tulisannya, Ustaz Doni mengaku menjadi salah seorang yang menyaksikan langsung perjalanan Pondok Pesantren Nurul Qarnain selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir.
Menurutnya, perkembangan tersebut tidak hanya ditandai dengan bertambahnya jumlah santri, pembangunan gedung, maupun perluasan kawasan pesantren, tetapi juga oleh semakin kuatnya kualitas pendidikan dan tradisi keilmuan yang terus dipertahankan.
Owner dari Adeeva Group itu menjelaskan bahwa pesantren yang pada masa awal perintisannya berdiri di atas lahan sekitar 40 meter persegi kini telah berkembang menjadi kawasan pendidikan seluas lebih dari tujuh hektare. Namun, menurutnya, kemajuan fisik bukanlah pencapaian yang paling mengesankan.
“Yang paling mengagumkan bukanlah luas tanah atau megahnya bangunan, melainkan kualitas santri-santrinya,” tulis Ustaz Doni.
Menurutnya, kualitas tersebut tercermin dari berbagai prestasi yang diraih santri Nurul Qarnain dalam Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) maupun kompetisi baca kitab kuning di tingkat regional, nasional, hingga internasional. Ia menilai capaian tersebut merupakan buah dari proses pendidikan yang berlangsung secara konsisten serta dedikasi para kiai dan asatiz dalam membina para santri.
Karena itu, ia mengaku kerap merekomendasikan Pondok Pesantren Nurul Qarnain kepada masyarakat yang ingin mendalami kitab kuning secara serius dan sistematis.

Dalam unggahannya, ia juga menyoroti sosok Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah yang berguru langsung kepada almagfurlah KHR. As’ad Syamsul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.
Ia menilai, KH. Yazid tidak hanya mewarisi keilmuan dari gurunya, tetapi juga membawa tradisi, nilai-nilai spiritual, dan keberkahan pendidikan khas Salafiyah Syafi’iyah yang kemudian dikembangkan di Pondok Pesantren Nurul Qarnain.
“Tradisi dan keilmuan itu bukan sekadar diajarkan, tetapi dihidupkan dalam denyut kehidupan sehari-hari para santri,” tulisnya.
Ustaz Doni bahkan mengibaratkan Nurul Qarnain sebagai “anak sungai besar” yang mengalir dari mata air Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
“Dari mata air itu, Nurul Qarnain membawa kejernihan tradisi, kedalaman ilmu, dan keberkahan yang terus mengalir dari generasi ke generasi,” ungkapnya.
Pada bagian akhir tulisannya, Ustaz Doni mengutip penjelasan KH. Yazid Karimullah yang disampaikan di hadapan para wali santri beberapa waktu lalu.
Menurutnya, KH. Yazid menjelaskan bahwa perkembangan Pondok Pesantren Nurul Qarnain merupakan buah dari keberkahan masyayikh yang disertai dengan istikamah dalam mengamalkan wirid dan tilawah Al-Qur’an, seperti Surah Yasin, Surah Al-Waqi’ah, dan Surah Al-Mulk (Tabarak) yang rutin dibaca setiap selesai salat Magrib dan Subuh. (*)
———————————————
Pewarta: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


