Acara yang berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan ini diisi dengan tausiah dan shalawat bersama. Dalam menyampaikan pesan-pesan spiritual, KH. Yazid Karimullah mengajak hadirin untuk meneguhkan cinta kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pondasi utama dalam menjalani kehidupan.
“Dengan hidayah Allah SWT, saya sangat bersyukur atas keistikamahan kalian dalam mencintai Kanjeng Nabi. Cinta itulah yang akan melahirkan syafaat kelak di hadapan malaikat Munkar dan Nakir,” tutur Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain.

Beliau menekankan bahwa setiap cinta memiliki konsekuensi. Bila seseorang mencintai Nabi dan para ulama, maka kelak akan dikumpulkan bersama mereka. Sebaliknya, cinta kepada orang yang zalim juga akan membawa akibat yang sama.
“Kalau ekonomi bagus, anak-anak baik, dan wafat dalam ketenangan, itulah keberhasilan. Tapi, jika hidup seolah sukses, namun wafat dalam keadaan iman yang hampa, maka itu adalah kegagalan hakiki,” pesan beliau.
Acara ini juga sekaligus menjadi momentum penyadaran sejarah bagi umat Islam. Kiai Yazid menjelaskan asal-usul penetapan kalender Hijriah oleh Sayyidina Umar bin Khattab. Menurut beliau, kalender Islam bermula dari kebutuhan administratif pemerintah, saat Gubernur Kuffah mengirim surat tanpa tanggal, hingga akhirnya Sayyidina Umar mengajak musyawarah bersama para sahabat untuk menentukan awal kalender Islam.
“Akhirnya disepakati bahwa hijrahnya Nabi adalah momen paling layak dijadikan penanda awal tahun. Tahun Hijriah yang ditaruh di bulan Muharam ini memiliki banyak hikmah dan perjuangan Rasullullah,” jelas beliau.

Tak hanya sejarah kalender Islam, beliau juga memaparkan keutamaan tanggal 10 Muharram (Asyura), yang disebut sebagai hari penuh keberkahan dan peristiwa luar biasa. Di antaranya, diterimanya taubat Nabi Adam setelah 350 tahun, diciptakannya alam semesta dan arsy, diciptakannya malaikat Jibril, dipulihkannya penglihatan Nabi Ya’qub, diselamatkannya Nabi Yusuf dari dalam sumur, kesembuhan Nabi Ayyub dari penyakit kulit, turunnya kitab Taurat, keluarnya Nabi Yunus dari perut ikan, dan diangkatnya Nabi Idris ke langit tertinggi.
Selain itu, pada hari Asyura tersebut juga menjadi momen selamatnya perahu Nabi Nuh dari gelombang banjir, turunnya rahmat pertama kali ke bumi, Nabi Ibrahim selamat dari kobaran api, terbelahnya laut oleh tongkat Nabi Musa, diampuninya dosa Nabi Daud, turunnya hujan pertama kali ke bumi, diangkatnya Nabi Isa ke langit, diampuninya dosa Nabi Muhammad SAW, baik yang lampau maupun yang akan datang, serta ditiupkannya sangkakala hari kiamat (sebagian riwayat menyebut terjadi pada 10 Muharam).

Kiai Yazid mengajak para santri dan jamaah untuk memperbanyak ibadah, sedekah, dan menunjukkan identitas sebagai umat muslim yang taat.
“Acara ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga pernyataan diri bahwa kita adalah umat Nabi Muhammad yang merayakan 1 Muharam bukan dengan hura-hura, melainkan dengan ibadah dan cinta kepada Rasulullah yang semoga kelak diakui dan berkumpul bersama beliau.”
Dalam menutup tausiyahnya, Kiai Yazid menitipkan pesan mendalam agar para santri menjaga akhlak dan ilmu selama menempuh pendidikan di pesantren.
“Saya titip pesantren ini. Tempat inilah yang akan menyelamatkan kalian di dunia dan akhirat,” pungkas beliau.
Acara yang berlangsung meriah namun tetap syar’i ini menjadi pembuka semangat baru bagi para santri untuk menyongsong Tahun Baru Islam 1447 Hijriah dengan semangat hijrah menuju perbaikan diri dan cinta sejati kepada Rasulullah SAW. (*)
—————————————–
Pewarta: Wildan Miftahussur & Silfin Aisyah
Editor: Fathorrozi


