Peringatan Muharam di Nurul Qarnain, Jelaskan Makna Minum Susu hingga Tradisi Tahun Baru Hijriah

JEMBER | nurulqarnain.net – Peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Pondok Pesantren Nurul Qarnain berlangsung khidmat dan penuh makna. Dalam rangkaian kegiatan Muharam yang dihadiri santri, alumni, pengurus pesantren, asatiz, serta jamaah Majelis Shalawat Al-Wishol itu, sejumlah nasihat dan penjelasan keagamaan disampaikan oleh masyayikh terkait tradisi yang berkembang di tengah masyarakat pada awal tahun Hijriah.

Saat acara yang berlangsung pada Selasa malam Rabu (16/06/2026) tersebut, disampaikan pula penjelasan mengenai tradisi minum susu yang selama ini menjadi bagian dari peringatan Muharam di lingkungan pesantren. Disebutkan bahwa tradisi tersebut merupakan bentuk tabaruk dan tafa’ulan (berpengharapan baik) yang terinspirasi dari kisah Rasulullah SAW ketika dihadapkan dengan pilihan minuman.

“Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah diberi pilihan berupa madu, khamr, dan susu. Beliau memilih susu. Dengan ini berarti susu putih merupakan simbol hati yang disucikan oleh Allah, dosa yang diampuni, dan harapan di tahun berikutnya menjadi lebih baik,” ungkap KH. Fawaid Yazid.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah, mengenang pengalaman beliau saat memperoleh ijazah amalan langsung dari ulama besar Makkah, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, pada tahun 1996.

“Saya diijazahi langsung oleh Sayyid Al-Maliki di Makkah. Oleh karena itu, amalan membaca Ayat Kursi 313 kali yang ada dalam Syawariq terus kami amalkan dan ajarkan kepada santri. Alhamdulillah banyak sekali faidah dan keberkahannya bagi santri maupun alumni,” dawuh beliau.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Badrut Tamam, M.H.I., turut memberikan penjelasan mengenai berbagai tradisi yang sering muncul setiap awal Muharam dan kerap menjadi perdebatan di tengah masyarakat.

Beliau menjelaskan bahwa tradisi minum susu pada malam atau awal Muharam bukanlah ibadah khusus yang memiliki tuntunan tertentu, melainkan bentuk tafa’ulan, yakni mengharapkan kebaikan dari simbol yang digunakan.

“Minum susu hukumnya mubah. Tetapi ketika diniatkan sebagai tafa’ulan agar hati diputihkan sebagaimana putihnya susu dan berharap dosa-dosa dibersihkan oleh Allah, maka itu menjadi sesuatu yang baik,” jelasnya.

Selain tradisi minum susu, beliau juga menyinggung tradisi membuat tajin atau bubur yang dikenal luas di kalangan masyarakat Jawa dan Madura.

“Pada hakikatnya yang utama adalah sedekahnya, bukan buburnya. Tajin hanya menjadi media untuk berbagi dan bersedekah kepada sesama. Ini berlandaskan kisah Nabi Musa bersama umatnya saat menyeberangi lautan. Bahan makanan menipis dan untuk mencukupi kebutuhan seluruh umat, beliau berinisiatif membuat bubur,” imbuh Gus Tamam.

Beliau juga menjelaskan bahwa doa awal tahun yang biasa dibaca masyarakat tidak memiliki riwayat khusus dari Rasulullah SAW. Namun berdoa tetap dianjurkan kapan saja, termasuk di awal tahun Hijriah sebagai bentuk harapan dan permohonan kepada Allah SWT agar diberikan keberkahan selama satu tahun ke depan.

“Berkumpul dalam majelis seperti ini menjadi pengingat bersama. Kalau sendiri di rumah, kadang lupa untuk berdoa dan bermuhasabah,” ujar beliau.

Gus Tamam juga mencontohkan berbagai tradisi lain yang berkembang di masyarakat, seperti pawai obor dan kegiatan-kegiatan simbolik yang dimaksudkan sebagai bentuk harapan akan datangnya kebaikan.

Menutup tausiahnya, beliau mengutip salah satu nasihat yang dinisbatkan kepada Sayyidina Umar bin Khattab RA bahwa kemuliaan dunia terletak pada harta yang dimanfaatkan dengan baik, sedangkan kemuliaan akhirat terletak pada amal salih.

“Mari jadikan awal tahun Hijriah ini sebagai momentum untuk mengurangi dosa, memperbanyak amal baik, dan memperbaiki diri agar ketika Allah memanggil kita kelak, kita membawa bekal amal salih,” pungkas beliau. (*)

—————————————

Pewarta: Wildan Miftahussurur

Editor: Fathorrozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *