Dibuka dengan kirab seluruh mahasiswa calon wisuda dan wisudawati dari asrama Ma’had Aly menuju jalan raya dan finish di depan asrama putri sembari menunggu acara wisuda dibuka pada jam 08.00 WIB. Turut hadir pula pada pelaksanaan rapat senat ini keluarga dari seluruh mahasiswa.
Rapat senat terbuka dimulai dengan pembukaan oleh KH. Badrut Tamam dan Wakil Ketua I STIS Nurul Qarnain, Mohammad Firmansyah, M.H.I., M.Pd., dengan pembacaan surat keputusan atas pergelaran wisuda bagi seluruh mahasiswa STIS angkatan 2018 dan 2019 yang telah lulus syarat untuk mendapatkan gelar sarjana. Adapun mahasiswa yang diwisuda, bergelar sarjana hukum dari dua prodi, yakni Hukum Ekonomi Syariah dan Hukum Keluarga Islam.
Rangkaian acara berikutnya, orasi ilmiah oleh Syeikh Dr. Thoha Ramadhan, Dosen Universitas Al Azhar Mesir.
“Perlu kita bersyukur kepada Allah Swt. karena berkat nikmat-Nya kita berada di sini. Dengan rahmat Allah, para mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nurul Qarnain telah berhasil mendapatkan ilmu. Ilmu ini adalah cahaya yang akan menyinari mereka, keluarga mereka, masyarakat, serta bangsa,” ungkapnya dengan bahasa Arab yang diterjemahkan oleh Hasbi Assidqi salah satu dosen STIS.

“Ilmu itu adalah cahaya yang diperoleh dari para ulama. Ulama laksana Ka’bah di Makkah sana, banyak orang yang datang untuk menjadikannya kiblat. Andaikan tidak ada ulama, niscaya manusia seperti hewan-hewan,” lanjut beliau.
Dosen Universitas Al Azhar Mesir itu juga menjelaskan bahwa ilmu merupakan kekayaan tertinggi melebihi harta dan dunia ini. Sebagai gambaran, Syeikh Thoha menyampaikan kisah dari Imam Bukhari saat pergi dengan maksud mengumpulkan hadis kepada Adam bin Iyadh. Selama tiga hari Imam Bukhari tidak makan karena tidak memiliki uang sama sekali, akhirnya dengan terpaksa beliau makan rumput untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Lalu datanglah seorang malaikat menjelma manusia yang membawa sekantung uang, “Ini semua dari Allah Swt, kata Imam Bukhari bersyukur,” cerita beliau.
“Nanti para pemuda dan pemudi yang lulus ini pasti akan menikah, maka wasiat saya adalah cari istri yang bisa mengelola keluarga dengan baik, mengelola nafkahnya ke jalan yang baik, serta merawat anaknya dengan baik,” pesan Syeikh Thoha. Tidak lupa pula, Dosen dari Al Azhar itu menceritakan tentang Fafuq seorang suami yang pergi berjihad di saat istrinya tengah hamil.
Beliau mengisahkan tentang pemuda yang pergi berjihad tatkala istrinya sedang hamil. Singkat cerita, istrinya yang sedang hamil melahirkan dan menitipkan anaknya yang bernama Rabiah kepada para ulama dan menggunakan seluruh harta yang diberikan suaminya untuk pendidikan anaknya. Beberapa tahun kemudian, ketika suaminya pulang dari jihad dan berjamaah di masjid Nabawi, ia mendengar seorang anak sedang berceramah dan mengutip hadis Nabi. Faruq mencari tahu siapa anak yang sangat alim tersebut, lantas diberitahu oleh jamaah bahwa anak itu adalah Rabiah putra Faruq.
“Maka, carilah istri salihah yang akan membawa kebahagiaan dan menjadi ibu yang mengutamakan anak dengan keilmuan,” jelas Syeikh Thoha.
Acara dilanjutkan dengan pengukuhan seluruh mahasiswa dari prodi Hukum Keluarga Islam dan Hukum Ekonomi Syariah oleh kaprodi masing-masing, serta penyematan oleh Ketua STIS Nurul Qarnain, Bpk. Bahrul Ulum, S.Sy, M.H.

Kemudian, dilanjut pula penganugerahan mahasiswa terbaik dari beberapa kategori prestasi; Mabruroh Muhallifah merupakan mahasiswi terbaik kategori penulisan skripsi terbaik, Syaridah mahasiswi terbaik kategori penulisan skripsi terbaik, Ervan Afandi sebagai lulusan terbaik dengan IPK tertinggi, Anna Puspitasari sebagai lulusan terbaik dengan IPK tertinggi, Abdul Ghoni sebagai mahasiswa terbaik kategori perintis UMKM, Mohammad Sofyan sebagai mahasiswa terbaik kategori perintis UMKM, dan Nuril Istiqomah dinobatkan sebagai mahasiswi terbaik kategori hafidz Qur’an 30 juz.
KH. Yazid Karimullah juga memberikan mauidzah. Beliau mengurai tentang perjuangan dalam merintis pesantren dengan harapan besar kelak Nurul Qarnain memiliki universitas.
“Saya sejak awal pendirian pesantren memiliki cita-cita untuk mendirikan universitas, maka tidak hanya dari kalangan santri, pengurus, guru dan dosen, bahkan bagi wali santri, saya harap dukungannya untuk program-program yang ada di Nurul Qarnain ini,” pungkas beliau. (*)
————————————–
Reporter: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


