Kalimat singkat ini seolah menjadi pintu masuk untuk memahami keseluruhan isi Pendosa yang Merindukan Tuhan karya Yoga Maulana. Sebuah kalimat yang mengingatkan bahwa doa tidak pernah bertanya seberapa bersih seseorang sebelum ia mengangkat tangannya, tidak pernah menimbang seberapa jauh ia telah tersesat, dan tidak pernah menghakimi berapa banyak kesalahan yang pernah diperbuatnya. Doa hanya menjadi ruang tempat seorang manusia, dengan segala luka dan dosanya, kembali berbicara kepada Tuhan.
Tidak semua novel mengajarkan hal negatif, percintaan, kenakalan, atau kehidupan yang jauh dari nilai kebaikan. Ada pula novel yang justru membuat kita berhenti sejenak, menutup halaman, kemudian bertanya kepada diri sendiri: sejauh apa sebenarnya aku telah berjalan dari Tuhan? Pendosa yang Merindukan Tuhan adalah salah satunya.
Buku ini tidak sekadar menyajikan cerita, tetapi mengajak pembacanya bercermin kepada sisi manusia yang sering kita sembunyikan, seperti tentang luka yang tidak selesai, kehilangan yang belum benar-benar diterima, kesalahan yang masih menghantui, dan perjalanan panjang untuk menemukan kembali jalan pulang.
Yoga Maulana tidak menghadirkan manusia sebagai sosok yang selalu benar. Ia menghadirkan manusia sebagaimana adanya pernah jatuh, pernah kecewa, pernah marah, pernah mencari pelarian, pernah menjauh dari Tuhan, bahkan pernah merasa tidak pantas untuk kembali. Namun, di antara semua keterpurukan itu, masih ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar mati, yakni kerinduan untuk pulang.
Barangkali, justru di sanalah kekuatan buku ini. Ia tidak mengajak kita untuk menghakimi seorang pendosa, tetapi mengajak kita memahami bahwa di balik seseorang yang tersesat mungkin ada luka yang tidak pernah kita ketahui. Dan di balik seseorang yang terlihat jauh dari Tuhan, mungkin masih ada doa yang diam-diam dipanjatkan pada malam hari doa seorang manusia yang sebenarnya hanya ingin berkata, “Tuhan, aku memang pernah jauh, tetapi aku masih ingin kembali.”
Yang membuat novel ini terasa dekat adalah cara penulis menggambarkan luka sejak dari rumah. Tokoh utama tumbuh dalam keluarga yang tidak selalu menghadirkan kehangatan. Ia mengenal ayah, tetapi tidak benar-benar mengenal kedekatan seorang ayah. Ia melihat rumah, tetapi tidak selalu merasakan rumah sebagai tempat berlindung.
Bahkan ada kalimat yang terasa sederhana, tetapi diam-diam menyayat, “Aku tumbuh dengan menyaksikan rumah tangga tanpa kelembutan.”
Barangkali banyak orang dewasa hari ini sebenarnya sedang membawa anak kecil di dalam dirinya; seorang anak yang dahulu hanya ingin dipeluk, didengar, dan diyakinkan bahwa dirinya cukup berharga untuk dicintai.
Lalu datang kehilangan. Di ruang ICU, ketika tubuh ayahnya semakin melemah, segala jarak yang bertahun-tahun dibangun tiba-tiba terasa tidak berarti. Ada begitu banyak kata yang ingin disampaikan, tetapi waktu ternyata tidak selalu memberikan kesempatan kedua. Yang tersisa hanya genggaman tangan dan sebuah panggilan lirih, “Ayah…”
Saya kira bagian ini mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi sering kita lupakan, yaitu jangan terlalu lama menunda kasih sayang. Sebab ada pertemuan yang kita kira masih akan selalu ada, padahal diam-diam sedang menuju perpisahan terakhir.
Setelah kehilangan itu, tokoh utama semakin terseret dalam kehidupan yang jauh dari Tuhan. Ia mencari kebahagiaan di tempat-tempat yang sebenarnya hanya mampu membuat luka terlupakan untuk sementara. Ia marah kepada kehidupan, kepada keadaan, bahkan kepada dirinya sendiri. Namun semakin seseorang berusaha melarikan diri dari luka, semakin jelas bahwa ada luka yang tidak dapat disembuhkan oleh keramaian, kesenangan, maupun dunia malam. Pada akhirnya, manusia tetap akan berhadapan dengan dirinya sendiri ketika semua suara di luar menjadi sunyi.
Di sinilah novel ini menemukan kedalamannya. Ia tidak mengatakan bahwa seorang pendosa harus terlebih dahulu menjadi suci untuk mendekati Tuhan. Justru sebaliknya, ia mengingatkan bahwa “Tuhan tidak pernah menuntunku datang dalam keadaan bersih. Ia hanya ingin aku datang.”
Kalimat ini bagi saya adalah jantung dari keseluruhan buku. Sebab sering yang membuat kita jauh dari Tuhan bukan dosa semata, melainkan keyakinan bahwa kita sudah terlalu kotor untuk kembali.
Padahal Tuhan tidak pernah meminta manusia datang dengan membawa kesempurnaan. Yang diminta hanyalah kejujuran untuk mengakui bahwa kita pernah salah dan keberanian untuk memulai kembali. Bahkan ketika doa hanya berupa tangisan, ketika sujud terasa penuh rasa malu, atau ketika seseorang hanya mampu berkata, “Tuhan, jangan sekarang… tolong beri aku sedikit waktu lagi. Aku masih ingin mencoba,” mungkin di situlah sebuah perjalanan pulang sedang dimulai.
Mungkin sebagai penutup, Pendosa yang Merindukan Tuhan bukan hanya tentang seorang manusia yang pernah tersesat. Ia adalah cerita tentang kita tentang luka yang disimpan, orang-orang yang terlambat kita hargai, kesalahan yang belum selesai kita maafkan, dan Tuhan yang tetap membuka pintu meskipun berkali-kali kita memilih pergi. Sebab mungkin, menjadi pendosa bukan berarti kehilangan Tuhan. Bisa jadi, menjadi pendosa adalah perjalanan panjang seorang manusia untuk akhirnya memahami bahwa sejauh apa pun ia pergi, rumah terakhir yang paling ia rindukan tetaplah Tuhan. (*)
Identitas Buku
Judul: Pendosa yang Merindukan Tuhan
Penulis: Yoga Maulana
Penerbit: Teman Duduk
Cetakan: I, 2025
Tebal: 204 halaman
ISBN: 978-634-04-4283-0
Genre: Fiksi Islami
——————————————
Penulis: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


