Jasadnya mungkin telah lama bersemayam di dalam tanah, melewati ratusan tahun yang datang dan pergi, tetapi namanya tetap hidup dalam perjalanan sejarah. Salah satunya adalah Aisyah binti Ahmad al-Qurthubiyah, yang wafat sekitar 1009 Masehi, seorang perempuan intelektual dari Cordoba, Andalusia, yang dikenal karena keluasan pengetahuan, kepiawaian dalam sastra, keindahan puisi, dan kecintaannya yang mendalam terhadap buku.
Tulisan ini terinspirasi dari karya KH. Husein Muhammad, Para Ulama dan Intelektual yang Memilih Jomlo, yang ditulis dan diterbitkan pada tahun 2024. Saya menyampaikan terima kasih kepada beliau, sebab melalui buku tersebut saya kembali dipertemukan dengan kisah para ulama dan intelektual yang memiliki jalan hidup yang tidak selalu sama dengan kebanyakan orang.
Bagi saya, buku yang baik bukan hanya memberikan kisah pengantar dan motivasi, tetapi juga membuka pintu untuk membaca sejarah dengan cara yang lebih manusiawi, lebih dekat, dan lebih reflektif. Dari sebuah buku, kita tidak hanya mengenal tokoh, tetapi juga dapat menemukan pertanyaan untuk diri sendiri.
Aisyah dikenal sebagai perempuan cerdas, sastrawan, penyair, dan pencinta ilmu yang tekun. Kecintaannya terhadap buku begitu kuat hingga ia dikenal sebagai seorang syughufah bil-qirā’ah wal-mu’ānasah bil-kutub, perempuan yang begitu dekat dengan bacaan dan menjadikan buku sebagai teman dalam kehidupannya. Ia memiliki perpustakaan pribadi yang dipenuhi buku dan manuskrip langka. Sebagian koleksinya bahkan kemudian dihadiahkan kepada Perpustakaan Cordoba. Tulisan tangannya pun dikenal sangat indah. Bagi Aisyah, buku bukan sekadar benda yang memenuhi rak. Buku adalah jendela untuk melihat dunia, ruang untuk berpikir, dan sahabat yang menemaninya menempuh perjalanan intelektual.
Kecerdasannya tidak hanya mendapat pengakuan dari masyarakat. Khalifah Andalusia, Abdurrahman III, yang bergelar An-Nashir (Sang Pemenang) disebut sebagai salah satu pengagumnya. Ia memberikan penghormatan tinggi kepada Aisyah karena kapasitas intelektualnya yang menonjol, bahkan di tengah lingkungan para intelektual laki-laki pada zamannya.
Ibnu Hayyan, seorang sastrawan dan sejarawan besar, juga memberikan kesaksian tentang keistimewaan Aisyah. Dalam Al-Muqtabas, ia menggambarkan kekagumannya terhadap perempuan yang memiliki kemampuan intelektual luar biasa tersebut. Tidak banyak perempuan pada zamannya yang mampu memperoleh pengakuan sedemikian luas dalam dunia ilmu dan sastra.
Penulis Al-Maghrib bahkan menyebut Aisyah dengan ungkapan yang menggambarkan betapa istimewanya dirinya, Innahā min ‘ajā’ib zamānihā wa gharā’ib awānihā, ia adalah salah satu perempuan yang paling memesona dan paling mengagumkan pada zamannya.
Namun, ada satu bagian dari kehidupan Aisyah yang hingga kini menyisakan ruang untuk direnungkan. Ia menjalani hidup hingga akhir hayatnya dalam keadaan tidak menikah. Tidak ada informasi yang benar-benar dapat memastikan mengapa ia memilih jalan tersebut. Oleh karena itu, berbagai dugaan yang muncul tidak lebih dari interpretasi para penulis setelahnya.
Ada yang menduga bahwa Aisyah begitu sibuk dengan ilmu dan pembelajaran sehingga perhatian terhadap pernikahan tidak menjadi bagian utama dalam hidupnya. Ada pula yang mengaitkannya dengan kecintaannya terhadap membaca dan meneliti. Dugaan itu menarik bukan untuk menghakimi pilihan hidupnya, melainkan untuk melihat betapa kuatnya kecintaan Aisyah terhadap ilmu dan buku.
Salah satu ungkapan yang dinisbatkan kepadanya menggambarkan kecenderungan tersebut:
لَانْشِغَالِهَا بِالْعِلْمِ وَالتَّعَلُّمِ؟ أَوْ لِكَوْنِهَا آثَرَتِ الْمُطَالَعَةَ فِي بُطُونِ الدَّفَاتِرِ عَلَى مُطَالَعَةِ وُجُوهِ الْخُطَّابِ؟
“Karena kesibukannya dengan ilmu dan belajar? Atau karena ia lebih memilih membaca lembar-lembar pengetahuan daripada mengamati wajah para pelamarnya?”
Ungkapan itu tentu tidak harus dipahami sebagai penolakan terhadap pernikahan. Lebih jauh, ia dapat dibaca sebagai gambaran tentang seorang perempuan yang menemukan kegembiraan yang begitu besar dalam dunia ilmu pengetahuan, seorang perempuan yang menemukan ruang hidupnya melalui membaca, berpikir, menulis, dan berkarya. Ada pula ungkapan lain yang lebih dalam:
وَأَنَّ لَذَّةَ الْمَعْرِفَةِ أَغْنَتْهَا عَنْ لَذَّةِ الزَّوَاجِ وَالِارْتِبَاطِ
“Kenikmatan pengetahuan telah membuatnya merasa cukup dari kenikmatan menikah dan keterikatan.”
Barangkali, yang paling menarik dari kisah Aisyah bukanlah pertanyaan mengapa ia tidak menikah, melainkan bagaimana ia mengisi kehidupannya. Ia memilih untuk dekat dengan ilmu, bersahabat dengan buku, dan menghabiskan waktunya dalam dunia pengetahuan.
Dari sana kita belajar bahwa kehidupan manusia memiliki jalan yang beragam, dan setiap orang dapat menemukan ruang pengabdiannya masing-masing. Aisyah menemukan salah satu ruang itu di antara halaman-halaman buku, dalam kata-kata yang ia baca, gagasan yang ia renungkan, dan karya yang ia tinggalkan untuk generasi setelahnya.
Dari itu, literasi menjadi sesuatu yang penting, terlebih bagi perempuan. Perempuan yang membaca tidak mudah dibatasi oleh sempitnya ruang, karena pikirannya dapat menjelajah jauh melampaui tempat di mana tubuhnya berada. Perempuan yang menulis tidak hanya menyimpan pikirannya untuk dirinya sendiri, tetapi menghadirkan suara yang dapat didengar oleh generasi setelahnya. Membaca adalah cara untuk membangun diri, sedangkan menulis adalah salah satu cara untuk meninggalkan jejak.
Aisyah telah pergi lebih dari seribu tahun lalu. Jasadnya mungkin telah lama menyatu dengan tanah, tetapi kisah hidup dan jejak intelektualnya masih berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Barangkali, di situlah letak keabadian yang sesungguhnya: bukan pada panjangnya usia, melainkan pada panjangnya manfaat yang ditinggalkan. Setiap kali seorang perempuan membuka buku, membaca dengan tekun, lalu menulis, sesungguhnya ia sedang membangun dirinya, memperluas dunianya, dan menyiapkan jejak yang mungkin suatu hari dibaca oleh orang-orang yang bahkan belum pernah ia kenal.
Sebab membaca dan menulis adalah dua kegiatan baik yang tidak pernah benar-benar berhenti ketika kita selesai melakukannya. Bacaan yang baik akan tinggal dalam pikiran, membentuk cara pandang, menumbuhkan kebijaksanaan, dan perlahan memengaruhi cara seseorang menjalani kehidupan.
Begitu pula tulisan yang baik, ia dapat berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, dari satu pikiran ke pikiran berikutnya, bahkan tetap berbicara ketika penulisnya telah lama tiada. Karena itu, buku bukan sekadar kumpulan halaman, melainkan ruang tempat pikiran bertumbuh dan kebaikan dapat diwariskan.
Terlebih bagi perempuan, membaca dan menulis memiliki arti yang begitu penting. Dengan membaca, seorang perempuan memperluas dunianya, dengan menulis, ia menghadirkan suaranya kepada dunia. Dari keduanya lahir pengetahuan, keberanian berpikir, dan gagasan yang dapat melampaui batas ruang dan zaman. Barangkali itulah yang kita pelajari dari Aisyah, usia manusia memang terbatas, tetapi apa yang dibaca, dipikirkan, dituliskan, dan diwariskan dalam kebaikan dapat memiliki usia yang jauh lebih panjang daripada kehidupan itu sendiri.
Perempuan yang membaca sedang membangun pikirannya, perempuan yang menulis sedang memperpanjang usianya melalui jalan peradaban dan keilmuan, dan ketika keduanya diarahkan kepada kebaikan, ia sedang menanam sesuatu yang mungkin terus tumbuh bahkan setelah dirinya tiada. (*)
————————————
Penulis: Wildan Miftahussurur
Editor: Fathorrozi


