Sunnah Mengakhirkan Salat Isya’!?

Mayoritas fuqaha’ Hanafiyah, Hanabilah, dan qaul jadid Imam as-Syafi’i mengatakan sunnah mengakhirkan Salat Isya’ hingga sepertiga malam berdasarkan beberapa hadis,

‎عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ -رضي الله عنه- قال: “كَانَ النَّبِيُ -صلّى الله عليه وسلّم- يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ الْعِشَاءَ.”

“Nabi senang untuk mengakhirkan Salat Isya’.” (Shahih al-Bukhari: 522 dan Shahih Muslim: 643.)

‎عَنْ عُمَرَ -رضي الله عنه- أَيْضًا حِيْنَمَا أَخَّرَ النَّبِيُّ -صلَى الله عليه وسلَم- الْعِشَاءَ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ -رضي الله عنه-: “نَامَ النِّسَاءُ وَالصِّبْيَانُ، فَخَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ وَرَأْسُهُ يَقْطُرُ مَاءً”، وَقَالَ: “إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ.”

“Ketika Nabi Saw. mengakhirkan Salat Isya’, Sayyidina Umar r.a berkata kepadanya, “para wanita dan anak-anak sudah tidur.” Maka Rasulullah Saw. keluar dalam keadaan rambutnya masih meneteskan air, dan berkata: “Ini adalah waktu yang tepat (untuk Salat Isya’) jika tidak memberatkan umatku.” (Shahih Muslim: 638.)

‎عَنْ جَابِرٍ -رضي الله عنه- وَفِيْهِ أَنَّهُ قَالَ: “إِذَا رَآهُمْ اجْتَمَعُوْا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَوْا أَّخَّرَ.”

“Jika Nabi Saw. melihat orang-orang sudah berkumpul, beliau menyegerakan salat. Namun, jika melihat mereka belum berkumpul (terlambat), beliau mengakhirkan shalat.” (Shahih al-Bukhari: 535.)

‎عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَيْضًا أَنَّ النَّبِيَّ -صلّى الله عليه وسلّم- قَالَ: “لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ، لَأَمَرْتُهُمْ أَنْ يُؤَخِّرُوْا الْعِشَاءَ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ أَوْ نِصْفِهِ.”

“Seandainya tidak memberatkan umatku, tentu aku perintahkan mereka untuk mengakhirkan Salat Isya’ hingga sepertiga atau setengah malam.” (Sunan at-Turmudzi: 167)

Sebagian Hanafiyah mengkhususkan anjuran mengakhirkan Salat Isya’ pada musim dingin, sedangkan pada musim panas lebih dianjurkan menyegerakannya (salat di awal waktu).

Malikiyah mengatakan lebih utama Salat Isya’ di awal waktu bagi individu dan jamaah yang tidak menunggu orang lain untuk salat setelah yakin telah masuk waktunya, kecuali bagi mereka yang ingin mengakhirkan Salat Isya’ karena hajat, seperti ada pekerjaan atau uzur lain.

Adapun keutamaan mengerjakan salat di awal waktu, termasuk Isya’, juga merupakan pendapat lain dari Syafi’iyah.

‎وَأَفْضَلِيَّةُ تَقْدِيمِ الصَّلَوَاتِ لاَوَّل وَقْتِهَا وَلَوْ عِشَاءً هُوَ – أَيْضًا – قَوْلٌ آخَرُ لِلشَّافِعِيَّةِ. قَال النَّوَوِيُّ: وَالاَصَحُّ مِنَ الْقَوْلَيْنِ عِنْدَ أَصْحَابِنَا أَنَّ تَقْدِيمَهَا أَفْضَلُ، ثُمَّ قَال: وَتَفْضِيل التَّأْخِيرِ أَقْوَى دَلِيلًا.

Imam an-Nawawi mengatakan, “Pendapat yang paling sahih dari dua qaul Imam as-Syafi’i menurut Syafi’iyah adalah mendahulukan salat yang lebih utama. Namun, pendapat yang lebih kuat dalam dalil adalah mengakhirkan salat.”

Qaul qadim Imam as-Syafi’i juga mengatakan tetap lebih utama di awal waktu, meskipun an-Nawawi mengatakan dalil tentang keutamaan mengakhirkan Isya’ memiliki dalil yang kuat, sehingga keduanya bisa diamalkan.

Penulis: Gus Kafa Nial Agil At-Tamamy

Editor: M. Firmansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *