Tausiyah Pengasuh sebelum Uthlah Ma’had: Pulang dengan Ilmu, Berbakti dengan Akhlak

Suasana Auditorium Pesantren pada Ahad pagi selepas Salat Subuh terasa khidmat. Ribuan santri dan santriwati berkumpul untuk mendengarkan pesan dari KH. Yazid Karimullah sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. (23/02/2025). Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya bersyukur, menjaga akhlak, serta mengamalkan ilmu yang telah diperoleh selama belajar di pesantren.

KH. Yazid memulai nasihatnya dengan mengajak para santri untuk selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Beliau mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, “Sebagaimana firman Allah SWT, ‘Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat untuk kalian’,” buka KH. Yazid.

Beliau juga mengingatkan bahwa para santri telah menempuh satu tahun terkahir di pesantren harus diamalkan dan suatu pencapaian yang harus disyukuri dengan terus belajar dan mengamalkan ilmu yang telah didapat.

Dalam pesan berikutnya, Pengasuh memberikan peringatan kepada para santri bahwa pulang ke rumah bukan berarti perjuangan selesai. Justru di rumah, mereka akan menghadapi banyak ujian yang bisa menggagalkan apa yang telah mereka peroleh di pesantren.

Beliau menyebutkan adanya “setan-setan” yang akan menguji mereka setelah pulang, seperti “setan teman” yang bisa menggoda mereka untuk kembali kepada kebiasaan buruk, “setan orang tua” yang tanpa disadari bisa membuat santri lalai dengan alasan berbakti, serta “setan bhekal (tunangan)” yang bisa menjadikan mereka terlena, dengan kenyamanan rumah dan melupakan disiplin yang telah dibangun selama di pesantren.

“Jangan sampai pulangan ini menjadi kegagalan bagi kalian,” tegas Kiai Yazid.

Beliau menekankan bahwa ilmu yang tinggi seharusnya menjadikan seseorang semakin tawadhu’, seperti padi yang semakin berisi akan semakin merunduk. Kesombongan, menurutnya, hanya akan mencabut keberkahan ilmu, sebagaimana iblis yang awalnya mulia namun akhirnya dihinakan oleh Allah karena kesombongannya.

Lebih lanjut, Kiai Yazid berpesan agar para santri selalu menjaga akhlak baik di hadapan orang tua dan masyarakat. Beliau mencontohkan bahwa Nabi Musa, hamba yang diajak berbicara langsung oleh Allah karena ketawadhu’annya. Bahkan, Gunung Tursina dipilih sebagai tempat Nabi Musa menerima wahyu juga karena kerendahan dirinya di hadapan Allah.

Pengasuh juga menekankan pentingnya menjadi santri yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Pulang ke rumah bukan berarti meninggalkan kebiasaan baik yang telah ditanamkan di pesantren. Justru, santri harus tetap mengamalkan ilmu yang telah dipelajari dengan cara membantu orang tua agar mendapatkan keberkahan.

Sebelum mengakhiri tausiyahnya, KH. Yazid mengingatkan agar para santri tetap melanjutkan program pesantren di rumah dengan niat mensyiarkan Islam. Ketawadhu’an yang telah dibangun selama di pesantren harus terus ditingkatkan agar ilmu yang diperoleh semakin barokah.

“Semoga kalian semua menjadi santri yang membanggakan, baik di dunia maupun di akhirat,” pungkas beliau.

Pewarta: Silfin A & Wildan Ms

Editor: M. Firmansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *